NADIKABAR.COM — Jauh sebelum kata healing digunakan untuk menyebut perjalanan melepas penat, Buitenzorg telah menjadi tempat orang-orang meninggalkan panas dan kesibukan Batavia. Mereka bergerak ke selatan menuju kota di kaki pegunungan untuk menghirup udara lebih sejuk, beristirahat, atau memulihkan kesehatan.

Kesan itu terekam dalam buku Java: The Garden of the East karya Eliza Ruhamah Scidmore. Penulis dan pelancong asal Amerika Serikat tersebut mengisahkan perjalanannya melintasi Jawa pada penghujung abad ke-19, dari Batavia hingga Banjoewangi di ujung timur pulau.

Buitenzorg menjadi salah satu persinggahan yang mendapat tempat khusus dalam catatannya. Dalam Bab VI berjudul "A Dutch Sans Souci", Scidmore tidak hanya menggambarkan kota pemerintahan kolonial. Ia merekam lanskap, kehidupan masyarakat, perkebunan, Kebun Raya, dan Gunung Salak yang terlihat dari tempatnya menginap.

Pemandangan pertama datang ketika fajar menyingsing. Dari serambi penginapan, Scidmore melihat Gunung Salak berdiri di hadapannya. Lereng gunung itu masih hijau hingga ke puncak oleh perkebunan dan hutan purba.

"At daylight we saw that our portico looked full upon the front of Mount Salak, green to the very summit with plantations and primeval forests," tulis Scidmore menggambarkan Buitenzorg kala itu. (Saat fajar menyingsing, kami melihat serambi tempat kami berada menghadap langsung ke Gunung Salak, yang hijau hingga ke puncaknya oleh perkebunan dan hutan purba.)

Jauh di bawah penginapan terbentang lembah yang ia umpamakan seperti Taman Eden. Ribuan pohon palem terus bergerak mengikuti angin. Dari kejauhan, ayunan cabangnya tampak selembut bulu burung unta. Namun, daun-daun itu mengeluarkan gemerisik keras yang berbeda dari suara pepohonan di negeri beriklim sedang.

Ketika angin bertiup lebih kuat, permukaan lembah terlihat bergelombang seperti ladang jelai (serelia). Di tepi sungai terdapat perkampungan dengan rumah-rumah dari anyaman bambu. Dari ketinggian, Scidmore menyaksikan kehidupan masyarakat berlangsung sejak matahari terbit.

Penduduk keluar dari rumah, merentangkan tangan, lalu berenang di sungai. Mereka berkumpul di bawah keteduhan untuk menyantap nasi dan kari dari piring daun pisang. Peralatan memasak kemudian dicuci dalam aliran air sebelum setiap orang memulai pekerjaan.

Para lelaki pergi bekerja atau duduk membuat perkakas. Perempuan mencuci pakaian, menganyam keranjang, dan melukis sarung. Sementara itu, anak-anak bermain di bawah pohon kelapa atau keluar-masuk sungai.

Gambaran tersebut menunjukkan Buitenzorg bukan hanya kota peristirahatan pejabat kolonial. Di balik vila, hotel, dan istana gubernur jenderal, terdapat kampung-kampung yang kehidupannya bertumpu pada sungai, kebun, kerajinan, dan alam sekitarnya.

Namun, kesaksian Scidmore tetap perlu dibaca secara kritis. Sebagai pelancong Barat pada masa kolonial, ia beberapa kali melihat penduduk pribumi sebagai bagian dari pemandangan yang eksotis. Catatannya merupakan kesan personal seorang pengunjung pada akhir abad ke-19, bukan gambaran yang sepenuhnya objektif tentang masyarakat Jawa.

Buitenzorg berjarak sekitar 40 mil dari Batavia. Namun, kedua kota itu menawarkan pengalaman yang bertolak belakang. Batavia digambarkan panas, lembap, dan menyesakkan. Sebaliknya, Buitenzorg memiliki udara jernih, malam sejuk, serta hujan yang menyegarkan hampir setiap hari.

Setelah tiba di kota itu, Scidmore merasa waktu seperti berhenti bergerak. Kalender tak lagi penting dan panas Batavia perlahan menghilang dari ingatan.

"Buitenzorg, the Bogor of the natives, who will not call it by its newer name, is one of the enchanted spots where days can slip by in dateless delight," kata Scidmore. ("Buitenzorg, merupakan salah satu tempat memesona, tempat hari-hari dapat berlalu dalam kesenangan tanpa terasa.")

Kutipan itu juga merekam dua nama yang hidup dalam satu kota. Pemerintah kolonial menyebutnya Buitenzorg, sedangkan masyarakat setempat tetap menggunakan nama Bogor. Penamaan resmi boleh berubah, tetapi sebutan lokal bertahan dalam kehidupan sehari-hari.