Scidmore juga mencatat sejumlah pengalaman yang terasa asing bagi pengunjung dari negeri beriklim sedang. Buah pala tergeletak di tanah seperti biji ek. Manggis dan rambutan tumbuh di depan mata. Kamboja dapat dikumpulkan hanya dengan membalikkan payung dan membiarkan bunganya berjatuhan.

Ragam bambu tumbuh dari jenis berdaun halus hingga bambu Burma yang menjulang setinggi seratus kaki. Rotan dan palem merambat memanjang dari satu pohon ke pohon lain. Anggrek Jawa dan Borneo dipelihara dalam bangsal yang dinaungi pepohonan tinggi.

Di tim redaksi koleksi tersebut, Scidmore paling mengingat kantong semar. Tanaman itu memiliki kelopak hijau pucat dengan urat merah marun. Kantongnya berisi air, berbau tidak sedap, dan lengket. Bentuk serta warnanya membuat tanaman tersebut menetap paling lama dalam ingatannya.

Kebun Raya tidak semata-mata dibangun untuk keindahan dan rekreasi. Tempat itu juga menjadi pusat penelitian tanaman yang mendukung perekonomian kolonial.

Lebih dari sembilan ribu spesimen hidup dirawat oleh seratus pekerja kebun pribumi di bawah arahan seorang kepala kebun Eropa. Laboratorium dan ruang kerja tersedia bagi ahli botani dari berbagai negara.

Sungai Tjiliwong memisahkan Kebun Raya dari kebun budidaya seluas sekitar 40 acre atau 16 hektare. Sebanyak 70 pekerja merawat tanaman bernilai ekonomi seperti kina, tebu, karet, teh, kopi, rami, getah, dan rempah-rempah.

Tanaman tidak sekadar dikumpulkan. Semuanya diteliti, diuji, dan disesuaikan dengan iklim sebelum dikembangkan di perkebunan. Keindahan Kebun Raya berjalan beriringan dengan kepentingan ilmu pengetahuan dan keuntungan ekonomi pemerintah kolonial.

Penataan serupa terlihat di luar kebun. Jalan-jalan Buitenzorg dinaungi pohon kenari dan waringin. Lembah, dataran, serta lereng bukit ditanami dalam barisan teratur. Perkebunan teh dan kopi menyerupai taman dengan daun-daun tanpa cacat serta tanah merah yang tetap gembur di sekitar akar.

Scidmore berkeliling menggunakan kereta besar yang disebut milord. Kendaraan sepanjang sekitar dua puluh kaki itu melaju melewati jalan teduh, barak, rumah sakit, jembatan, dan perkampungan. Anak-anak bertepuk tangan ketika kereta tersebut melintas.

Perjalanannya membawa Scidmore ke makam Raden Saleh, Batoe Toelis, dan vila tempat seorang pangeran Ashantee pernah hidup dalam pengasingan. Dari kawasan vila tersebut, ia kembali melihat bentang luas menuju Gedeh, Pangrango, dan Salak.

Semua pemandangan itu membentuk romantisme Buitenzorg sebagai kota hijau yang berada di tim redaksi sungai dan pegunungan. Kota tersebut memberikan jeda bagi orang-orang yang jenuh oleh panas serta kesibukan Batavia.

Lebih dari satu abad kemudian, arus perjalanan ke Bogor tidak pernah benar-benar berhenti. Orang datang menggunakan kereta komuter, mobil, dan sepeda motor. Mereka memenuhi Kebun Raya, mencari makanan, mengunjungi tempat rekreasi, atau melanjutkan perjalanan menuju kawasan Puncak.

Alat transportasi dan wajah kota telah berubah. Namun, alasan kedatangan mereka tetap berdekatan dengan pengalaman yang ditulis Scidmore, yaitu mencari udara berbeda, menikmati kehijauan, dan mengambil jarak sejenak dari kepenatan kota besar.

Di tim redaksi hujan, pepohonan, dan bayang-bayang Gunung Salak, Bogor masih memikul imajinasi lamanya. Ia menjadi tempat orang-orang berharap dapat melupakan pekerjaan dan perjalanan waktu-tempat hari-hari berlalu tanpa terasa.