Kesan Scidmore mengenai hilangnya waktu kemudian disambung dengan perbandingan yang tajam terhadap Batavia. "One forgets the calendar and the flight of time, and hardly remembers the heavy, sickening heat of Batavia stewing away on the plains below," Ia menggambarkan secara rinci kondisi Bogor dulu kala. ("Orang melupakan kalender dan perjalanan waktu serta hampir tidak mengingat panas Batavia yang berat dan memuakkan, yang terus mendidih di dataran rendah.")

Pada masa itu, Buitenzorg telah berkembang menjadi tempat berlindung bagi orang-orang Eropa. Kota ini menjadi kediaman gubernur jenderal sekaligus pusat kehidupan sosial pemerintahan kolonial. Pejabat, saudagar, bankir, dan pemilik perkebunan memiliki rumah atau menghabiskan masa istirahat di sana.

Orang sakit dan mereka yang dianggap memiliki tubuh lemah juga datang untuk memulihkan kondisi. Udara pegunungan dipercaya dapat mengembalikan tenaga yang terkuras oleh iklim panas dataran rendah.

Fungsi itu membuat Scidmore menyebut Buitenzorg sebagai "Simla dari Hindia Belanda". Simla, kini Shimla, merupakan kota pegunungan yang digunakan pejabat Inggris di India untuk menghindari panas.

"Buitenzorg is the Simla of Netherlands India, but it awaits its Kipling to record its social life in clear-cut, instantaneous pictures." ungkap Scidmore. ("Buitenzorg adalah Simla bagi Hindia Belanda, tetapi kota itu masih menunggu Kipling-nya untuk merekam kehidupan sosialnya dalam gambaran yang tajam dan seketika.")

Dalam bahasa kalcer sekarang, Buitenzorg telah menjadi kota healing. Orang datang untuk mengambil jarak dari pekerjaan, menghindari hawa panas, dan mencari kesegaran di bawah bayang-bayang pegunungan.

Namun, ruang pemulihan itu tidak terbebas dari struktur kolonial. Kenyamanan terutama dinikmati pejabat dan kelompok berada Eropa. Penduduk pribumi lebih banyak hadir sebagai pekerja perkebunan, tukang kebun, pelayan, pengrajin, dan penghuni kampung di pinggiran kota.

Kekaguman terbesar Scidmore tertuju pada Kebun Raya Buitenzorg. Ia menyebut tempat tersebut sebagai lokasi utama yang dipamerkan kepada pengunjung sekaligus kebanggaan Pulau Jawa.

"The famous Botanical Garden at Buitenzorg is the great show-place, the paradise and pride of the island," tulisnya. (Kebun Raya Buitenzorg yang terkenal merupakan tempat pameran utama, surga, dan kebanggaan pulau ini.")

Kebun tersebut dibangun dan dikembangkan selama puluhan tahun. Panas matahari tropis, hujan yang turun setiap hari, serta pengetahuan hortikultura orang Belanda membuat koleksi tanamannya berkembang.

Istana gubernur jenderal berdiri di tengah kawasan seluas sekitar 90 acre atau lebih dari 36 hektare. Dari gerbang utama, pengunjung melewati jalan yang dinaungi pohon-pohon kenari. Cabangnya melengkung pada ketinggian seratus kaki dan membentuk lorong menyerupai katedral hijau.

Batang pohon dipenuhi paku tanduk rusa, paku sarang burung, rotan, palem merambat, anggrek, dan tanaman udara. Di dekatnya terdapat danau teratai, pandan, serta palem Banka berbatang merah yang tumbuh berdesakan di sebuah pulau kecil.

Semakin jauh masuk, pengunjung menemukan terowongan pohon waringin, jalan yang diapit palem raja, rumpun paku pohon, dan belukar kamboja. Dari salah satu bukit kecil, Scidmore melihat dua puncak Gedeh dan Pangrango yang tampak biru serta diselimuti uap. Seutas asap disebut terus mengapung dari salah satu puncaknya.

Halaman istana dinaungi waringin, pohon sosis, dan pohon lilin. Bugenvil menutupi cabang-cabang, sedangkan rusa berkeliaran di tim redaksi halaman rumput. Kesan yang muncul bukan sebatas kebun koleksi, melainkan bentang alam tropis yang sengaja disusun menjadi panggung.