Bukankah arti kemerdekaan terasa sumir jika rakyatnya tidak mampu memperoleh pengobatan ketika sakit?

Pertanyaan itu mungkin terdengar tak penting untuk diajukan di ruang praktik dokter. Di sana, seseorang hanya mengeluhkan nyeri dada, demam yang tak kunjung turun, atau batuk berminggu-minggu. Tak ada yang berbicara tentang kedaulatan negara. Tak ada yang menyebut revolusi. Tapi, dalam pengalaman sakit, makna kemerdekaan menemukan bentuknya yang paling hakiki.

Negara bisa merdeka. Manusia belum tentu.

Seseorang yang tak mampu berobat karena kemiskinan belum sepenuhnya bebas dari keadaan yang membelenggunya. Anak yang kehilangan kesempatan tumbuh sehat akibat kekurangan gizi tidak sedang menghadapi persoalan medis semata. Ia juga berhadapan dengan batas-batas yang dibentuk masyarakat tempat ia dilahirkan.