Ada metafora klasik dalam pemikiran politik, seperti yang diulas filsuf Michel Foucault (1978), yakni body politic. Melalui metafora ini, negara dibayangkan sebagai sebuah tubuh yang setiap bagiannya saling terhubung.

Namun, dalam konteks perjuangan melahirkan Republik, kita kerap terlalu mudah membayangkan tubuh bangsa sebagai sosok gagah, tahan banting, dan selalu bergerak menuju kemenangan.

Padahal, kehidupan warga berlangsung dalam keadaan yang berbeda-beda. Sebagian memperoleh pertolongan dengan cepat. Sebagian lain harus menempuh perjalanan panjang untuk menemukan dokter. Ada yang leluasa memilih rumah sakit, ada pula yang mesti menghitung ongkos perjalanan sebelum memutuskan apakah penyakitnya perlu diperiksakan.

Kita menyebut semua warga negara setara. Sayangnya, kesempatan mereka memperoleh pelayanan kesehatan tidak selalu sama.