NADIKABAR.COM β 113 unit pembangkit listrik tenaga surya beroperasi di 92 lokasi, didukung digitalisasi layanan dan fasilitas isi ulang air untuk mengelola sumber daya secara lebih efisien
Jakarta (NadiKabar) - Penghematan energi di perusahaan perkeretaapian berlangsung melalui berbagai keputusan operasional. Panel surya membantu menyediakan listrik bagi aset perusahaan, teknologi digital mengurangi kebutuhan kertas, sementara fasilitas isi ulang air memberikan alternatif bagi pelanggan untuk mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai. Berbagai langkah ini memperlihatkan bagaimana efisiensi dapat diterapkan dari lingkungan kerja hingga pengalaman perjalanan pelanggan.
Memperingati Hari Energi Sedunia pada 22 Oktober, PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) mengembangkan pengelolaan energi dan sumber daya melalui pemanfaatan energi terbarukan, peningkatan efisiensi operasional, serta penyediaan fasilitas yang mendukung kebiasaan lebih ramah lingkungan.
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan KAI 2025, konsumsi energi perusahaan turun dari 11.945.467 gigajoule (GJ) pada 2024 menjadi 10.107.302 GJ pada 2025. Penggunaan energi berkurang 1.838.165 GJ atau 15,39%. Pada periode yang sama, intensitas energi per pelanggan turun sekitar 22,05%, dari 0,0263 GJ menjadi 0,0205 GJ per pelanggan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pengelolaan energi perlu berjalan seiring dengan perkembangan pelayanan. Pemantauan konsumsi, pemanfaatan teknologi, dan pengembangan sumber energi alternatif menjadi bagian dari upaya perusahaan menggunakan sumber daya secara lebih efisien.
βEfisiensi perlu diterjemahkan ke dalam keputusan operasional yang terukur. Kami melihat peluang pengelolaan energi dari fasilitas perusahaan, penggunaan teknologi, hingga cara pelanggan mengakses layanan. Setiap inisiatif memiliki manfaat yang berbeda, tetapi semuanya perlu diarahkan pada penggunaan sumber daya yang semakin bertanggung jawab,β ujar Anne.
Salah satu upaya tersebut adalah pengoperasian 113 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di 92 lokasi, dengan total kapasitas terpasang 4.430,65 kilowatt peak (kWp), setara sekitar 4,43 megawatt peak (MWp). Fasilitas tersebut tersebar di stasiun, balai yasa, kantor, griya karya, depo, dan record center untuk mendukung kebutuhan listrik di lingkungan operasional KAI.
Efisiensi juga hadir melalui digitalisasi layanan. Selama Semester I 2026, sebanyak 5.555.034 pelanggan KA Jarak Jauh memanfaatkan fasilitas Face Recognition Boarding Gate. Penggunaan teknologi ini diperkirakan mengurangi pemakaian 13.888 rol kertas boarding pass, dengan efisiensi biaya sekitar Rp203,80 juta. Pengurangan penggunaan kertas menjadi manfaat langsung digitalisasi, meskipun dampak penghematan energinya perlu dihitung secara terpisah.
Di area pelayanan pelanggan, KAI telah menyediakan 124 unit Water Station di 58 stasiun, mencakup 70 area pelayanan, hingga Juni 2026. Fasilitas isi ulang air minum gratis ini memungkinkan pelanggan menggunakan tumbler atau botol pakai ulang. Berdasarkan estimasi konservatif, apabila 10% pelanggan KA Jarak Jauh dan Lokal selama Semester I 2026 mengisi ulang satu kali, potensi pengurangan penggunaan botol plastik sekali pakai mencapai sekitar 2,99 juta botol. Angka tersebut merupakan estimasi potensi, bukan realisasi penggunaan.
Anne menjelaskan bahwa pengelolaan energi dan sumber daya membutuhkan indikator yang jelas agar hasil setiap program dapat dievaluasi sesuai manfaatnya. Penurunan konsumsi energi, kapasitas energi surya, pengurangan penggunaan kertas, serta potensi pengurangan plastik merupakan indikator berbeda yang saling melengkapi dalam membaca upaya keberlanjutan perusahaan.
βPerubahan menuju operasional yang lebih efisien berlangsung melalui langkah-langkah yang konsisten. Kami terus mengevaluasi pemanfaatan energi dan sumber daya, sekaligus mengajak pelanggan berpartisipasi melalui kebiasaan sederhana, seperti menggunakan fasilitas digital dan membawa botol minum pakai ulang,β tutup Anne.