Untuk musim 2026/2027, Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO mencatat produksi kapas dunia diproyeksikan mencapai 25,9 juta ton, sedangkan konsumsi diperkirakan sekitar 25,2 juta ton. Perdagangan kapas dunia diproyeksikan mencapai 9,6 juta ton.
Meski memiliki peran ekonomi yang besar, sektor kapas juga menghadapi sejumlah tantangan. Perubahan cuaca, gangguan rantai pasok, persaingan dari serat sintetis dan perubahan preferensi konsumen menjadi beberapa persoalan yang perlu diperhatikan.
FAO mencatat pangsa kapas dalam konsumsi serat dunia terus mengalami penurunan. Pada 1960-an, kapas memiliki pangsa sekitar 60 persen, sedangkan pada 2024 angkanya turun menjadi sekitar 22 persen seiring meningkatnya penggunaan serat sintetis.
Karena itu, Hari Kapas Sedunia menjadi momentum untuk mendorong inovasi, meningkatkan produktivitas, memperkuat posisi petani dan pekerja, serta mengembangkan pengolahan kapas agar memberikan nilai ekonomi yang lebih besar.
Pada 2026, peringatan Hari Kapas Sedunia dijadwalkan berlangsung pada 7 Oktober di Tashkent, Uzbekistan. Agenda tersebut diarahkan untuk meningkatkan perhatian terhadap sektor kapas, mendorong investasi pada kapas Afrika dan membahas tantangan perubahan iklim terhadap komoditas tersebut.
Hari Kapas Sedunia pada akhirnya bukan sekadar peringatan mengenai bahan yang digunakan dalam pakaian. Momentum ini mengingatkan bahwa kapas memiliki rantai kehidupan yang panjang, mulai dari petani di lahan, pekerja dan pengolah, hingga industri tekstil dan konsumen. Karena itu, keberlanjutan sektor kapas juga berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat dan perdagangan global.