NADIKABAR.COM — Hari Kontrasepsi Sedunia menjadi momentum untuk memperkuat keterlibatan laki-laki dalam perencanaan keluarga dan kesehatan reproduksi. Keluarga Berencana (KB) bukan semata-mata urusan perempuan, melainkan tanggung jawab bersama pasangan dalam mengambil keputusan mengenai kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga.
"Dengan mayoritas peserta KB adalah perempuan, program KB dapat terkesan berorientasi pada perempuan, salah satunya karena pilihan kontrasepsi perempuan saat ini lebih beragam. Namun, pemerintah kini berupaya mengubah pendekatan tersebut dengan menempatkan suami sebagai partner setara dalam perencanaan keluarga dan kesehatan reproduksi," ujar Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji dalam keterangan tertulis, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, keterlibatan laki-laki dalam KB tidak berarti memindahkan seluruh tanggung jawab kontrasepsi dari perempuan kepada laki-laki. Pembagian tanggung jawab yang lebih seimbang dapat dimulai dari pemahaman pilihan kontrasepsi bersama pasangan, pendampingan saat konsultasi, pengetahuan tentang manfaat dan konsekuensi setiap metode, hingga pemilihan kontrasepsi pria sesuai dengan kondisi dan kesepakatan pasangan.
Data Kemendukbangga/BKKBN menunjukkan kesertaan KB pria pada 2025 mencapai 3,27 persen, terdiri atas penggunaan kondom sebesar 3,14 persen dan Metode Operasi Pria (MOP) atau vasektomi sebesar 0,13 persen. Angka tersebut menunjukkan sebagian besar peserta KB masih perempuan, sehingga penguatan informasi, konseling, akses layanan, serta dukungan lingkungan menjadi penting untuk mendorong keterlibatan laki-laki secara lebih luas.
Wihaji menegaskan peningkatan partisipasi laki-laki dalam KB tidak dapat dipersempit hanya pada peningkatan angka vasektomi. Keterlibatan pria mencakup pemahaman terhadap berbagai pilihan kontrasepsi, penggunaan kondom, konsultasi kesehatan reproduksi, dukungan terhadap pasangan, serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan keluarga.
"Cara kita meluruskannya tidak bisa dengan serta-merta menyalahkan atau langsung mengatakan bahwa pemahaman mereka keliru. Pendekatan yang kita bangun harus selalu positif, empatik, dan tentunya berbasis fakta," tuturnya.
Karena itu, Kemendukbangga/BKKBN memperkuat ekosistem KB pria melalui peningkatan kapasitas tenaga layanan, edukasi, kelompok KB pria, motivator, penyuluh KB, serta keterlibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Pada 2025 tercatat 311 provider vasektomi dan 652 Motivator KB Pria, meningkat dari 143 orang pada 2024.
Pemerintah juga menargetkan sedikitnya satu tim provider Vasektomi Tanpa Pisau (VTP) terlatih tersedia di setiap kabupaten/kota agar masyarakat yang telah memperoleh edukasi dapat mengakses layanan ketika membutuhkannya.
"Di sinilah pemerintah hadir. Kami berkomitmen untuk memastikan setiap pasangan mendapatkan informasi yang akurat, konseling yang komprehensif, serta akses ke pelayanan yang berkualitas," jelas Wihaji.
Menurutnya, keberhasilan keterlibatan laki-laki dalam KB pada akhirnya bukan hanya dilihat dari berapa banyak pria yang menggunakan metode kontrasepsi, tetapi dari sejauh mana laki-laki memiliki pengetahuan, akses informasi, dan terlibat secara bertanggung jawab dalam keputusan perencanaan keluarga.