"Kalau aparat kita pajak dan bea cukai bekerja semestinya, seharusnya seperti orang Kamboja, kita surplus tahun ini Rp900 triliun," ujarnya.
Lebih lanjut, Hashim menyebut pemerintah Prabowo-Gibran telah mengambil sejumlah langkah untuk mengatasi persoalan penerimaan negara, termasuk menerbitkan peraturan presiden (perpres).
Ia menilai persoalan fiskal Indonesia bukan disebabkan oleh lemahnya kemampuan ekonomi negara, melainkan belum optimalnya kinerja aparat dalam mengumpulkan penerimaan.
"Indonesia tidak lemah, yang lemah aparatnya. Yang harus kita efisienkan, kita harus dorong," ujar Hashim.
Lebih lanjut, berharap penerapan pajak digital dan optimalisasi pemungutan pajak dapat memperbaiki kondisi fiskal Indonesia yang selama ini menjadi sorotan pengamat dan lembaga internasional.