Damayanti, buka suara soal potensi terpuruknya nilai tukar rupiah imbas ancaman turun kasta MSCIIa mencontohkan, sentimen global juga dapat memengaruhi pergerakan rupiah sebagaimana terjadi setelah keputusan Federal Reserve (The Fed) untuk tidak menaikkan suku bunga yang memberikan sentimen positif bagi pasar. Menurutnya, ada sejumlah faktor eksternal yang berada di luar kendali Indonesia.

"Kalau kita lihat hari ini juga penguatan terjadi di global, 'Oh Amerika nggak naikkan suku bunga The Fed', dampaknya ternyata langsung positif. Jadi banyak faktor yang di luar kontrol dari kita," jelasnya.

Destry menambahkan, BI berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi, terutama nilai tukar rupiah. Menurutnya, stabilitas menjadi prioritas untuk menciptakan iklim ekonomi yang kondusif sehingga sektor riil dapat tumbuh dan membuka lebih banyak lapangan kerja.

"Kita sudah punya komitmen yang kuat bahwa fokus di kita itu adalah memang menjaga stabilitas. Jadi stabilitas itu adalah pertama yang harus kita jaga, supaya bisa tercipta iklim ekonomi yang kondusif untuk nantinya bisa ekonomi di sektor riilnya bisa tumbuh dan bisa membuka lapangan pekerjaan," pungkasnya.

Sebagai informasi, Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Hashim Djojohadikusumo, menyebut rupiah bisa makin terpuruk imbas keputusan MSCI. MSCI sebelumnya diketahui membuka opsi penurunan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.