Nasaruddin menilai kerja sama tersebut dapat menjadi ruang pembelajaran bersama. Indonesia memiliki pengalaman dalam mengelola kemajemukan masyarakat, sementara Vatikan menyimpan kekayaan literatur dan tradisi keilmuan yang dapat menjadi sumber pembelajaran.
"Mereka berkepentingan untuk belajar ke Indonesia. Kita pun juga, saya kira, perlu belajar di Vatikan," lanjutnya.
Dalam kunjungan ini, Nasaruddin juga berkesempatan mengunjungi perpustakaan di Vatikan. Ia mengaku menemukan banyak koleksi literatur Islam, termasuk sejumlah kitab yang jarang dijumpainya di Indonesia maupun negara-negara Timur Tengah.
Menurut Nasaruddin, pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya pertukaran pengetahuan dan dialog antartradisi keagamaan.
Gagasan Indonesia Berpeluang Jadi Tema Pertemuan Berikutnya
Selain membuka peluang kolaborasi, Nasaruddin mengungkapkan gagasan ekoteologi dan diplomasi keagamaan yang disampaikan dalam forum internasional di Assisi mendapat perhatian dari penyelenggara. Ia mengatakan, penyelenggara menyampaikan apresiasi terhadap materi pidato Indonesia dan berencana menindaklanjutinya dalam agenda pertemuan mendatang.
"Jadi, statement kita tentang ekoteologi dan tentang religious diplomacy itu nanti juga akan dijadikan tema besar yang akan datang," kata Nasaruddin.
Nasaruddin menyebut ketertarikan peserta forum tidak hanya tertuju pada gagasan diplomasi keagamaan, tetapi juga pada Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa di tengah keberagaman. Menurutnya, kesempatan berbicara yang semula dialokasikan selama tujuh menit bahkan berkembang menjadi sekitar 30 menit karena peserta ingin mengetahui lebih jauh pengalaman Indonesia.