Empat tahun silam di Hangzhou, China, atlet-atlet Indonesia membuat negara mereka finis di urutan kelima setelah mengumpulkan 29 medali emas, 30 medali perak, dan 37 medali perunggu. Sedangkan Thailand berada di urutan ketujuh karena kalah jumlah emas setelah mendapatkan 27 medali emas.
Kini di Jepang, setelah panitia menghapus catur yang empat tahun lalu menyumbangkan 10 medali emas kepada Indonesia, Thailand menyalip Indonesia seperti terjadi pada edisi 2010 dan 2014.
Meskipun demikian, selisih medali Indonesia dengan Thailand tidaklah jomplang. Sampai menjelang hari terakhir, selisih itu hanya empat medali emas.
Dengan jumlah atlet yang hampir separuh dari yang dikirimkan Thailand, atlet-atlet disabilitas Indonesia justru memiliki efektivitas kompetisi yang lebih tinggi.
Oleh karena itu, perjuangan Abdil Majid Rahman dan rekan-rekannya, serta para pelatih, dan juga pihak-pihak terkait dengan mereka, wajib diapresiasi tinggi.
Abdil Majid Rahman dan rekan-rekan juga sudah menunjukkan ambisi serta kepercayaan diri yang tinggi dalam berkompetisi, yang akan sempurna jika dibarengi dengan tekad yang sama ambisius dari pihak-pihak yang terkait dengan mereka.
Salah satu kebutuhan untuk ambisius itu adalah ambisi menjadi yang terbaik di Asia Tenggara.
Lebih dari itu, kebutuhan menjadi yang terbaik dan terbesar di kawasan adalah juga berkaitan dengan predikat negara besar, yang akan makin baik jika disempurnakan pula dengan menguasai pula arena-arena olah raga.
Jepang yang menjadi tuan rumah Asian Games dan Asian Para Games 2026 menyadari kebutuhan ini. Pun dengan China, dan yang lain.
Dari Jepang dan China, orang justru melihat olahraga adalah juga penggerak utama soft power yang membantu negara memproyeksikan pengaruh dan kekuatannya di dunia.
Dari mereka, olahraga terlihat sudah berkembang jauh melampaui sekadar stadion dan papan skor, karena juga sudah menjadi instrumen strategis untuk memberikan pengaruh pada dunia dan menentukan posisi di mata global.