NADIKABAR.COM — Abdil Majid Rahman baru kali ini mengikuti Asian Para Games. Merasa masuk arena sebagai debutan, atlet para renang Indonesia itu gugup karena harus beradu dengan atlet-atlet yang lebih berpengalaman ketimbang dirinya.
"Saya berusaha mengatasi kegugupan itu dengan mengatakan ke diri saya, 'harus menang'," kata dia kepada pewarta ANTARA Aloysius Lewokeda di Nagoya, Kamis (22/10).
Kepercayaan diri dan tekad kuat untuk menang itu membantu Abdil Majid menjuarai nomor 100 meter gaya dada putra SB7 pada Asian Para Games 2026 di Aichi dan Nagoya, Jepang, setelah finis tercepat dengan waktu 1 menit 20,26 detik.
Abdil Majid adalah satu dari sejumlah atlet Indonesia yang mempersembahkan 14 medali emas sampai Jumat (23/10) atau sehari sebelum Asian Para Games 2026 ditutup.
Dia adalah bagian dari puluhan atlet Indonesia yang sudah mempersembahkan total 71 medali sebelum perhelatan ini diakhiri, Sabtu (24/10).
Perjuangan heroik Abdil Majid dan rekan-rekannya adalah inspirasi dan membuat bangga Indonesia.
Mereka hampir pasti membuat Indonesia finis di 10 besar pada Asian Games 2026. Indonesia tengah berada di peringkat kedelapan dalam klasemen sementara.
Kompetisi masih menyisakan beberapa pertandingan dalam cabang panahan, anggar, angkat berat, dan boccia di mana Indonesia berpeluang menambah medali emas dari duel melawan Thailand dalam final beregu campuran boccia BC1/BC2.
Duel ini akan menjadi salah satu simbol untuk persaingan ketat antara Indonesia dan Thailand, pada Asian Para Games. Tidak hanya untuk edisi ini, tapi juga pada edisi-edisi sebelumnya, sejak Para Games pertama kali digelar di Asia pada 2010.
Bisa dibilang duel itu juga merepresentasikan persaingan besar kedua negara untuk menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.
Di level Asian Games, harus diakui bahwa Thailand sudah jauh meninggalkan Indonesia.
Pada Asian Games 2026, Thailand finis di urutan ketujuh setelah memanen 18 medali emas, 13 perak, dan 21 perunggu. Saat yang sama, Indonesia tuntas di peringkat 11 setelah mengumpulkan 5 emas, 11 perak dan 23 perunggu.
Di level Asian Games, Thailand hampir selalu berada di atas Indonesia sejak Bangkok 1966. Mereka hanya pernah di bawah Indonesia pada edisi 1982 di New Delhi, Beijing 1990, Hiroshima 1994, dan Jakarta-Palembang 2018.
Meskipun dari postur ekonomi dan demografi lebih kecil dibandingkan dengan Indonesia, Thailand hampir selalu lebih ambisius dengan mengirimkan kontingen dalam jumlah lebih banyak, kecuali ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018.
Pun pada edisi 2026 di Nagoya, Prefektur Aichi, Jepang.
Jika Indonesia mengirimkan 432 atlet, maka Thailand lebih ambisius lagi dengan mengutus 694 atlet.
Di Asian Para Games pun begitu, kecuali Asian Para Games 2018 di Jakarta dan Palembang.
Tahun ini mereka mengirimkan 314 atlet disabilitas ketika Indonesia mengirimkan 105 atlet.
Hasilnya, Thailand menyalip Indonesia dalam jumlah perolehan medali. Thailand sudah 18 medali emas, sedangkan Indonesia 14 medali emas.
Tak terlalu jomplang memang, apalagi Indonesia lebih baik dari sudut efektivitas atlet terhadap medali emas yang diraih atlet. Di sini, efektivitas Thailand hanya 5,7 persen, sedangkan Indonesia 13 persen.
Tapi, peringkat tidak dilihat dari rasio semacam itu, karena tetap dilihat dari berapa medali yang dikumpulkan sebuah kontingen.
Kali ini Indonesia harus rela di bawah Thailand setelah pada Para Games 2018 dan 2022 selalu berada di atas mereka.
Empat tahun silam di Hangzhou, China, atlet-atlet Indonesia membuat negara mereka finis di urutan kelima setelah mengumpulkan 29 medali emas, 30 medali perak, dan 37 medali perunggu. Sedangkan Thailand berada di urutan ketujuh karena kalah jumlah emas setelah mendapatkan 27 medali emas.
Kini di Jepang, setelah panitia menghapus catur yang empat tahun lalu menyumbangkan 10 medali emas kepada Indonesia, Thailand menyalip Indonesia seperti terjadi pada edisi 2010 dan 2014.
Meskipun demikian, selisih medali Indonesia dengan Thailand tidaklah jomplang. Sampai menjelang hari terakhir, selisih itu hanya empat medali emas.
Dengan jumlah atlet yang hampir separuh dari yang dikirimkan Thailand, atlet-atlet disabilitas Indonesia justru memiliki efektivitas kompetisi yang lebih tinggi.
Oleh karena itu, perjuangan Abdil Majid Rahman dan rekan-rekannya, serta para pelatih, dan juga pihak-pihak terkait dengan mereka, wajib diapresiasi tinggi.
Abdil Majid Rahman dan rekan-rekan juga sudah menunjukkan ambisi serta kepercayaan diri yang tinggi dalam berkompetisi, yang akan sempurna jika dibarengi dengan tekad yang sama ambisius dari pihak-pihak yang terkait dengan mereka.
Salah satu kebutuhan untuk ambisius itu adalah ambisi menjadi yang terbaik di Asia Tenggara.
Lebih dari itu, kebutuhan menjadi yang terbaik dan terbesar di kawasan adalah juga berkaitan dengan predikat negara besar, yang akan makin baik jika disempurnakan pula dengan menguasai pula arena-arena olah raga.
Jepang yang menjadi tuan rumah Asian Games dan Asian Para Games 2026 menyadari kebutuhan ini. Pun dengan China, dan yang lain.
Dari Jepang dan China, orang justru melihat olahraga adalah juga penggerak utama soft power yang membantu negara memproyeksikan pengaruh dan kekuatannya di dunia.
Dari mereka, olahraga terlihat sudah berkembang jauh melampaui sekadar stadion dan papan skor, karena juga sudah menjadi instrumen strategis untuk memberikan pengaruh pada dunia dan menentukan posisi di mata global.