NADIKABAR.COM — Program hilirisasi mineral telah menjadi penggerak utama investasi sekaligus strategi pemerintah dalam membangun basis industri nasional. Pemerintah tidak akan lagi berfokus pada ekspor bahan mentah, tetapi mendorong pengembangan rantai nilai mineral dari sektor pertambangan hingga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengatakan hilirisasi telah menjadi salah satu kontributor penting terhadap investasi nasional.
Menurutnya, sektor ini telah mampu menyumbang sekitar 30% dari total investasi Indonesia dengan nilai mencapai US$61 miliar atau meningkat 7,2%.
"Kita adalah rumah bagi beberapa cadangan paling penting di dunia untuk nikel, bauksit, tembaga, dan mineral kritis strategis lainnya. Tujuan kita adalah membangun industri. Itulah sebabnya hilirisasi tetap menjadi pilar utama dari strategi ekonomi kita," ujar Rosan dalam gelaran Indonesia Sustainability Forum (ISF) di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Rosan menjelaskan arah hilirisasi Indonesia saat ini mulai bergeser dari sekadar pembangunan fasilitas pengolahan mineral menuju pembentukan ekosistem industri yang terintegrasi. Ekosistem tersebut menghubungkan sektor pertambangan, pemrosesan, manufaktur, energi bersih, hingga teknologi sehingga penciptaan nilai tambah dari kekayaan mineral menjadi berlipat ganda.