NADIKABAR.COM — Terik matahari membakar kulit para pengendara motor yang antre mengisi bensin di berbagai sudut Pulau Dewata, beberapa waktu lalu. Kesabaran mereka diuji untuk mendapat setetes bensin yang kala itu terasa begitu berharga layaknya sebongkah berlian.

Durasi antrean yang dilalui oleh para pengendara bisa mencapai lebih dari empat jam. Antrean berlangsung hingga rembulan menggantung tinggi di angkasa.

Tak jarang, ketika tiba di pelataran stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), mereka harus menelan pahit lantaran tulisan "stok habis" atau "SPBU tutup" terpampang nyata.

“Waktu itu ada teman yang pakai motor listrik, dia jadi penyelamat kalau ada yang perlu dicari di luar kantor. Sampai bantu cariin pom bensin (SPBU) yang masih jualan,” ujar Rai (55), warga Denpasar, kepada NadiKabar ketika dihubungi dari Jakarta, Minggu (18/10).

Pemandangan berupa antrean panjang pembelian bahan bakar minyak (BBM) itu meramaikan jagat media sejak awal pekan ketiga Oktober sebelum berangsur-angsur terurai pada akhir pekan yang sama.

Kondisi membaik setelah Pertamina melakukan normalisasi distribusi dan pemerintah daerah menerapkan ganjil-genap untuk pembelian BBM bersubsidi.