NADIKABAR.COM — Perjalanan pesawat British Airways (BA)n009 pada 24 Juni 1982 lalu mulus-mulus saja saat lepas landas dari Kuala Lumpur, Malaysia dengan tujuan Perth, Australia.

Sampai melewati atas Pulau Jawa, gangguan itu mulai terjadi.

Penumpang pesawat mulai melihat asap keluar dari sela-sela lubang AC di kabin. Sementara awak kabin mengecek sumber asap itu apakah mengeluarkan api. Saat itu, penumpang merokok di kabin masih diizinkan, demikian dilansir dari YouTube Mayday: Air Disaster, dikutip Senin (7/9/2026).

Beberapa saat kemudian, pesawat Boeing 747 itu seperti menabrak partikel yang menyebabkan gesekan bercahaya sehingga menimbulkan efek St Elmo's Fire alias badan pesawat berkilauan mengeluarkan cahaya plasma biru. Cahaya biru itu juga tampak mengelilingi 4 mesin jetnya.

Kokpit yang dikomandani Kapten Eric Moody saat itu mengira pesawat menabrak awan petir, biasanya berjenis Cumulonimbus (Cb). Mereka berdiskusi, seharusnya tidak ada awan petir itu karena radar pesawat sangat bersih.

Sesaat kemudian, satu per satu dari 4 mesin mati. Pesawat kehilangan daya dan ketinggian dari 11.300 m ke 3.650 m.

"Penumpang sekalian, ini kapten Anda yang berbicara. Kami mengalami sedikit masalah. Keempat mesin telah berhenti. Kami sedang berusaha sekuat tenaga untuk menghidupkannya kembali. Saya harap Anda tidak terlalu khawatir," demikian Moody mengumumkan ke seluruh kabin penumpang dengan tenang, dilansir dari BBC.

Penumpang mulai panik. Betty Ferguson, salah satu penumpang melihat ada api keluar dari mesin.

"Suasananya hampir senyap total, kecuali suara desingan itu," kenang Ferguson.

Kapten Moody lalu melakukan panggilan MayDay ke Air Traffic Center (ATC) Jakarta untuk melakukan pendaratan darurat di Bandara Halim Perdanakusuma.

Berhubung mesin masih mati, Moody sempat memilih untuk mendarat di lautan alias ditching bila tidak cukup waktu menuju runway bandara di Jakarta. Penumpang sudah mengenakan masker oksigen dan pelampung.

13 Menit yang penuh ketegangan. Moody tetap tenang dan berhasil menghidupkan kembali mesin yang hampir mati dan mendarat dengan selamat setelah bermanuver mengelilingi gunung berapi.

Namun saat pendaratan, kaca kokpit sudah buram total karena tabrakan dengan material yang mereka kira masuk dalam awan petir. Moody dibantu dengan dua kopilot akhirnya berhasil mendaratkan pesawat jumbo itu dengan manual dipandu oleh lampu runway Halim yang lamat-lamat terlihat.

Keesokan harinya, Moody dan dua kopilotnya kembali ke bandara untuk mengecek pesawatnya. Tampak pesawat itu seperti disemprot pasir parah, catnya terkelupas. Mereka pun membongkar mesin jet keluaran Rolls Royce.

Investigasi dipimpin mantan insinyur Rolls Royce Malcolm Grayburn. Grayburn mengatakan mesin akhirnya dibongkar di Jakarta dan diterbangkan dengan pesawat cargo ke Inggris untuk dibongkar dan diteliti.

Grayburn terperangah dengan apa yang dilihatnya. Sebagian besar mesin mengalami goresan parah.

Pihak Rolls Royce melakukan analisis forensik terhadap mesin-mesin jet tersebut dan mendokumentasikan semuanya melalui analisis fotografi serta melakukan banyak analisis laboratorium. Grayburn menemukan bahwa mesin-mesin itu tersumbat oleh debu halus, serta serpihan batu dan pasir.

Saat diteliti lebih lanjut, diketahui bahwa puing-puing itu jelas merupakan abu vulkanik, yang juga mengandung polimorf silika kristalin (SiO2 ) kristobalite. Pasir silika atau kuarsa yang mengandung silika kristalin, bahan pembuat kaca.. Beberapa hari setelah penerbangan yang mengerikan itu, para penumpang dan awak mengetahui bahwa pada malam penerbangan mereka, telah terjadi letusan besar Gunung Galunggung, yang terletak hanya 160 kilometer di tenggara Jakarta.

Letusan Galunggung tahun 1982 itu membuat 60 ribu orang dievakuasi.

Namun, sejak insiden serius yang membuat BA 009 nyaris celaka, dunia akhirnya mengetahui bahwa abu vulkanik bisa membahayakan penerbangan.

Menurut laman World Meteorological Organization, investigasi terhadap kasus ini menunjukkan seluruh mesin pesawat mengalami mati mesin akibat masuknya abu vulkanik. Pesawat-pesawat tersebut diketahui telah melintasi abu vulkanik yang berasal dari letusan Gunung Galunggung di Indonesia.

Masuknya abu vulkanik dan gas ke dalam mesin dapat berdampak buruk pada kinerja pesawat saat terbang. Dampak tersebut meliputi:

1. Gangguan mesin seperti mati mesin2. Erosi pada komponen avionik dan mesin3. Penyumbatan filter dan saluran pipa4. Penurunan kualitas bahan bakar5. Abrasi pada kaca depan dan bagian tepi depan pesawat6. Korosi pada permukaan logam akibat adanya tetesan asam.

Untuk mengatasi hal ini, World Meteorogical Organization telah membentuk International Airways Volcano Watch (IAVW) untuk memantau dampak letusan gunung api pada dunia penerbangan.