NADIKABAR.COM — Baca beritanya dalam bahasa Inggris
Kabut asap yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan di sebagian wilayah Indonesia sudah memicu frustrasi di kalangan negara tetangga, termasuk Singapura dan Malaysia.
Tnay Heng Hung, seorang urban planner asal Sarawak di Malaysia, yang sekarang tinggal di Singapura, mengatakan kabut asap membangkitkan kenangan masa kecilnya saat polusi asap yang parah dari Indonesia mengganggu kehidupannya sehari-hari.
"Sangat mengkhawatirkan, karena ketika saya mengalaminya, usia saya kurang lebih sama dengan usia anak-anak saya sekarang," katanya.
"Selama beberapa generasi, masalah ini tidak juga membaik. Saya rasa sesuatu harus dilakukan."
Ow Tai Pang, seorang guru privat, mengatakan kabut asap dari Indonesia mencapai puncaknya sekitar sepekan lalu dengan kualitas udara di Singapura yang memburuk hingga masuk kategori tidak sehat.
"Rasanya seperti menghirup asap secara langsung," katanya.
"Saya bisa mencium baunya di udara dan tenggorokan saya menjadi sangat kering. Sangat tidak nyaman."
Seperti banyak warga Singapura lainnya, mereka memilih menutup jendela, menyalakan air purifier, dan menghindari aktivitas di luar ruangan.
Tnay mengatakan kedua putranya terpaksa menghentikan sejumlah kegiatan, seperti berenang, bermain sepak bola, dan bersepeda.
"Sebagian besar waktu kami habiskan di dalam rumah, yang tentu cukup membosankan bagi anak-anak," katanya.
Ow mengatakan rasa frustrasinya lebih ditujukan pada cara pemerintah Indonesia menanganinya, yang menurutnya bisa dilakukan lebih cepat apalagi sejumlah negara tetangga sudah menawarkan bantuan.
"Kalau Singapura dan Malaysia saja bisa merasakan dampak kabut asap separah ini, saya kira masyarakat Indonesia pasti terkena dampaknya jauh lebih berat daripada kami.
"Saya justru jadi lebih berempati kepada warga Indonesia."
Kabut asap juga memicu frustrasi warga di Malaysia, yang menurut sejumlah laporan menjadi salah satu negara yang paling lama mengalami paparan asap dari kebakaran hutan.
Warga Kuala Lumpur, Syed Akramin, mengatakan kabut asap sudah sangat mengganggu kehidupan keluarganya.
"Anak-anak saya tidak bisa bersekolah dan istri saya mengalami batuk parah yang berlangsung selama beberapa minggu," katanya.
Ia mengatakan kabut asap tahun ini sudah sangat mengganggu sampai mendorongnya untuk bersuara di media sosial, yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
"Media sosial menjadi wadah bagi kami untuk menyampaikan kekhawatiran.