NADIKABAR.COM — Sinar mentari di Kampung Long Pahangai II, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, mulai condong ke barat sekitar pukul dua siang. Di atas bukit di persimpangan jalan yang membelah kehijauan hulu Mahakam, suasana hangat tercipta dengan sendirinya.
Di sana, sekitar 260 penari laki-laki mewakili 13 kampung se-Kecamatan Long Pahangai berkumpul. Orang tua dengan telaten membantu anak-anak mereka, sementara para pemuda saling bahu-membahu mengenakan busana sakral berhias daun pisang, topeng kayu berukir indah, serta beragam perlengkapan yang sarat makna spiritual. Di sekeliling mereka, ratusan penari pengiring makin melengkapi kehangatan kebersamaan itu.
Ketika setiap busana telah terpasang rapi, barisan pun serentak melangkah menuju lapangan utama. Langkah-langkah itu bukan sekadar pergerakan menuju panggung pertunjukan, melainkan kesinambungan jejak yang telah diayunkan para leluhur sejak puluhan tahun silam.
Inilah Festival Hudoq Pekayang 2026 yang berlangsung 20-22 Oktober. Sebuah perayaan yang bukan sekadar pementasan seni, melainkan denyut nadi kehidupan yang terus mengalir dan bernapas di jantung Kalimantan.
Hudoq Pekayang bukanlah tradisi yang baru lahir. Warisan leluhur ini telah hidup di tengah masyarakat Dayak Bahau sejak era 1960 hingga 1970-an, berawal dari kebiasaan saling berkunjung antarkampung, saling berbagi cerita, bertukar benih padi, dan mempererat tali persaudaraan yang tak pernah lapuk oleh jarak.
Melalui musyawarah adat yang penuh khidmat, Kampung Long Pahangai II kini dipercaya menjadi tuan rumah. Sebuah amanah untuk mengobarkan semangat: “Melestarikan budaya, menguatkan identitas, menuju Mahulu Melaju.”
Sebanyak 13 kampung menyatukan suara dan langkah: Delang Kerohong, Long Pakaq, Long Lunuk, Long Isun, Naha Aruq, Datah Naha, Lirung Ubing, Long Pahangai I, Long Pahangai II, Long Tuyoq, Liu Mulang, Long Pakaq Baru, hingga Long Lunuk Baru.
Setiap kampung hadir membawa gerak tari, lantunan suara, dan hamparan doa mereka masing-masing—menyatu harmonis di tepian Mahakam yang terus mengalir menghidupi persaudaraan ini.
Bupati Mahakam Ulu, Angela Idang Belawan, turut hadir di tengah kemeriahan acara. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Hudoq Pekayang bukan sekadar pelestarian warisan masa lalu, melainkan jembatan harmoni antara manusia dan alam.
Bagi masyarakat Dayak Bahau, Hudoq Pekayang memiliki makna yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tradisi saling berkunjung antarkampung ini menjadi sarana mempertemukan keluarga, mempererat persaudaraan, dan merawat keharmonisan yang telah dibangun lintas generasi.
"Melalui perjumpaan inilah rasa saling mengenal dan kepedulian terhadap sesama akan terus dipelihara," kata Angela.
Menyoroti tema “Hudoq Pekayang: Antara Manusia, Alam, dan Tradisi sebagai Penjaga Warisan Budaya Leluhur”, Angela mengingatkan bahwa keberlanjutan budaya terjalin erat dengan alam dan masyarakatnya.