Hasilnya menunjukkan bahwa uap air menjadi salah satu faktor terpenting dalam menentukan produksi dan penyebaran formaldehida. Sinar ultraviolet memecah molekul air di atmosfer dan menghasilkan hidrogen reaktif yang membantu pembentukan formaldehida.
Ketika hujan turun, formaldehida yang mudah larut dalam air kemudian ikut terbawa ke permukaan. Dengan kata lain, siklus air Mars diduga berperan sebagai semacam mekanisme pengantar bahan kimia pembentuk kehidupan.
Selanjutnya, diketahui bahwa distribusi formaldehida ternyata tidak merata. Peneliti memperkirakan kawasan Tharsis dan Elysium, yang merupakan wilayah dataran tinggi dan pegunungan besar di Mars, dapat menerima formaldehida sekitar 50 miligram per meter persegi per tahun.
Angka tersebut sekitar 10 kali lebih tinggi daripada rata-rata global dalam simulasi. Fenomena ini berkaitan dengan proses yang dikenal sebagai orographic lifting. Udara lembap yang bergerak naik melewati pegunungan akan mendingin dan mengalami kondensasi sehingga menghasilkan lebih banyak presipitasi.
Air kemudian membawa formaldehida turun ke permukaan. Wilayah cekungan di sekitar daerah yang lembap juga menarik perhatian. Air sungai dan air tanah berpotensi membawa formaldehida terlarut menuju danau atau cekungan tertutup. Ketika air menguap, konsentrasi senyawa tersebut dapat meningkat.
Kondisi seperti ini secara teori dapat menyediakan air cair sekaligus pasokan senyawa karbon yang dibutuhkan untuk proses kimia prebiotik. Namun, penelitian ini tidak membuktikan bahwa kehidupan benar-benar muncul di wilayah tersebut.
Menariknya, lokasi yang selama ini dieksplorasi rover bukan selalu kawasan dengan perkiraan deposisi formaldehida tertinggi. Dalam simulasi, Gale Crater yang dieksplorasi Curiosity menerima sekitar 2,18 miligram H₂CO per meter persegi per tahun, sedangkan Jezero Crater yang menjadi wilayah kerja Perseverance sekitar 3,33 miligram.