Keduanya berada di bawah rata-rata global model. Meski demikian, material organik telah ditemukan di kedua lokasi tersebut. Peneliti menekankan bahwa angka tersebut merupakan **perkiraan jumlah formaldehida yang pernah mencapai permukaan Mars, bukan jumlah yang masih tersisa hingga sekarang.
Paparan radiasi ultraviolet, sinar kosmik, serta senyawa pengoksidasi di permukaan Mars dapat menghancurkan atau mengubah formaldehida. Karena itu, belum diketahui berapa banyak material organik yang terbentuk dari senyawa tersebut yang masih bertahan hingga kini.
Dr Shungo Koyama mengatakan peta tersebut dapat membantu menguji hubungan antara distribusi formaldehida dan lingkungan yang mendukung kimia awal kehidupan.
"Dengan membandingkan peta kami dengan temuan rover, kita dapat mulai menguji apakah tempat-tempat yang menerima lebih banyak H₂CO juga lebih mendukung kimia yang berkaitan dengan kehidupan awal. Jika pengamatan masa depan mengonfirmasi hubungan ini, peta kami dapat membantu mengidentifikasi target yang menjanjikan untuk misi Mars berikutnya," kata Koyama.
Artinya, hujan Mars purba bukan sekadar petunjuk bahwa planet merah pernah memiliki air. Siklus air mungkin ikut menentukan lokasi tempat bahan kimia penting bagi kehidupan terkumpul.
Para peneliti mengusulkan cekungan yang berada di dekat wilayah yang secara konsisten lembap sebagai kandidat menarik untuk misi masa depan. Sampel batuan dari kawasan tersebut dapat membantu menguji apakah jejak kimia yang diprediksi model benar-benar tersimpan di permukaan Mars.
Temuan ini belum menjadi bukti kehidupan pernah ada di Mars. Namun, penelitian tersebut memberikan petunjuk baru tentang bagaimana air, atmosfer, hujan, dan kimia organik mungkin saling berinteraksi untuk menciptakan lingkungan yang lebih mendukung proses menuju kehidupan miliaran tahun lalu.