NADIKABAR.COM — Mars mungkin pernah memiliki wilayah yang jauh lebih menarik bagi munculnya kehidupan daripada yang selama ini dibayangkan. Penelitian terbaru menunjukkan hujan di Mars purba kemungkinan tidak hanya membawa air, tetapi juga membantu mengantarkan formaldehida, molekul penting dalam pembentukan bahan dasar kehidupan.
Temuan ini berasal dari pemodelan global yang dilakukan peneliti dari Tohoku University, Earth-Life Science Institute, dan Institute of Science Tokyo. Studi tersebut memetakan untuk pertama kalinya bagaimana formaldehida di atmosfer Mars purba kemungkinan tersebar dan jatuh ke permukaan planet.
Penelitian ini diterbitkan dalam The Planetary Science Journal pada 30 September 2026 dengan judul Global Distribution of Atmospheric Formaldehyde Deposition Correlated with Water Vapor on a Warm Early Mars.
Sekitar 3,8-3,6 miliar tahun lalu, Mars diperkirakan mengalami periode yang lebih hangat dan basah. Bukti geologi menunjukkan keberadaan sungai, danau, bahkan kemungkinan lautan di belahan utara Mars.
Seperti dikutip dari The Brighter Side News, dalam kondisi tersebut, atmosfer Mars yang kaya karbon dioksida dan mengandung gas hidrogen memungkinkan terbentuknya formaldehida (H₂CO).
Formaldehida menarik perhatian ilmuwan karena dapat menjadi bahan awal berbagai reaksi kimia yang menghasilkan gula, asam amino, dan molekul organik kompleks lainnya. Senyawa-senyawa tersebut merupakan komponen penting dalam kimia yang berkaitan dengan asal-usul kehidupan.
Penelitian sebelumnya oleh tim yang sama pada 2024 telah menunjukkan bahwa atmosfer Mars purba secara fotokimia dapat menghasilkan formaldehida dalam jumlah tertentu. Studi terbaru kemudian menjawab pertanyaan yang belum terpecahkan, di mana formaldehida itu akhirnya terkumpul?
Untuk mengetahuinya, peneliti menggabungkan model kimia atmosfer dengan model iklim Mars tiga dimensi. Simulasi dibuat berdasarkan salah satu skenario Mars yang hangat sekitar 3,8-3,6 miliar tahun lalu. Model menggunakan atmosfer dengan tekanan sekitar 2 bar, kandungan hidrogen 6%, serta kemiringan sumbu Mars 40 derajat.
Hasilnya menunjukkan bahwa uap air menjadi salah satu faktor terpenting dalam menentukan produksi dan penyebaran formaldehida. Sinar ultraviolet memecah molekul air di atmosfer dan menghasilkan hidrogen reaktif yang membantu pembentukan formaldehida.
Ketika hujan turun, formaldehida yang mudah larut dalam air kemudian ikut terbawa ke permukaan. Dengan kata lain, siklus air Mars diduga berperan sebagai semacam mekanisme pengantar bahan kimia pembentuk kehidupan.
Selanjutnya, diketahui bahwa distribusi formaldehida ternyata tidak merata. Peneliti memperkirakan kawasan Tharsis dan Elysium, yang merupakan wilayah dataran tinggi dan pegunungan besar di Mars, dapat menerima formaldehida sekitar 50 miligram per meter persegi per tahun.
Angka tersebut sekitar 10 kali lebih tinggi daripada rata-rata global dalam simulasi. Fenomena ini berkaitan dengan proses yang dikenal sebagai orographic lifting. Udara lembap yang bergerak naik melewati pegunungan akan mendingin dan mengalami kondensasi sehingga menghasilkan lebih banyak presipitasi.
Air kemudian membawa formaldehida turun ke permukaan. Wilayah cekungan di sekitar daerah yang lembap juga menarik perhatian. Air sungai dan air tanah berpotensi membawa formaldehida terlarut menuju danau atau cekungan tertutup. Ketika air menguap, konsentrasi senyawa tersebut dapat meningkat.
Kondisi seperti ini secara teori dapat menyediakan air cair sekaligus pasokan senyawa karbon yang dibutuhkan untuk proses kimia prebiotik. Namun, penelitian ini tidak membuktikan bahwa kehidupan benar-benar muncul di wilayah tersebut.
Menariknya, lokasi yang selama ini dieksplorasi rover bukan selalu kawasan dengan perkiraan deposisi formaldehida tertinggi. Dalam simulasi, Gale Crater yang dieksplorasi Curiosity menerima sekitar 2,18 miligram H₂CO per meter persegi per tahun, sedangkan Jezero Crater yang menjadi wilayah kerja Perseverance sekitar 3,33 miligram.
Keduanya berada di bawah rata-rata global model. Meski demikian, material organik telah ditemukan di kedua lokasi tersebut. Peneliti menekankan bahwa angka tersebut merupakan **perkiraan jumlah formaldehida yang pernah mencapai permukaan Mars, bukan jumlah yang masih tersisa hingga sekarang.
Paparan radiasi ultraviolet, sinar kosmik, serta senyawa pengoksidasi di permukaan Mars dapat menghancurkan atau mengubah formaldehida. Karena itu, belum diketahui berapa banyak material organik yang terbentuk dari senyawa tersebut yang masih bertahan hingga kini.
Dr Shungo Koyama mengatakan peta tersebut dapat membantu menguji hubungan antara distribusi formaldehida dan lingkungan yang mendukung kimia awal kehidupan.
"Dengan membandingkan peta kami dengan temuan rover, kita dapat mulai menguji apakah tempat-tempat yang menerima lebih banyak H₂CO juga lebih mendukung kimia yang berkaitan dengan kehidupan awal. Jika pengamatan masa depan mengonfirmasi hubungan ini, peta kami dapat membantu mengidentifikasi target yang menjanjikan untuk misi Mars berikutnya," kata Koyama.
Artinya, hujan Mars purba bukan sekadar petunjuk bahwa planet merah pernah memiliki air. Siklus air mungkin ikut menentukan lokasi tempat bahan kimia penting bagi kehidupan terkumpul.
Para peneliti mengusulkan cekungan yang berada di dekat wilayah yang secara konsisten lembap sebagai kandidat menarik untuk misi masa depan. Sampel batuan dari kawasan tersebut dapat membantu menguji apakah jejak kimia yang diprediksi model benar-benar tersimpan di permukaan Mars.
Temuan ini belum menjadi bukti kehidupan pernah ada di Mars. Namun, penelitian tersebut memberikan petunjuk baru tentang bagaimana air, atmosfer, hujan, dan kimia organik mungkin saling berinteraksi untuk menciptakan lingkungan yang lebih mendukung proses menuju kehidupan miliaran tahun lalu.