NADIKABAR.COM — Kamis, 15 Oktober 2026, Istana Negara menjadi panggung dua pelantikan yang berdiri bersisian, tetapi sesungguhnya berbicara tentang satu perkara. Presiden Prabowo Subianto mengambil sumpah Letjen TNI Kristomei Sianturi sebagai Kepala BNPB menggantikan Letjen TNI Suharyanto. Dalam rangkaian yang sama, Satyawan Pudyatmoko dilantik sebagai Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN).
Pejabat yang satu memegang selang pemadam. Pejabat yang lain diharapkan menahan air agar tetap bermukim di dalam tanah. Keduanya dilantik ketika matahari di sebagian Sumatera dan Kalimantan kembali lindap di balik jerubu. Organisasi non-pemerintah Pantau Gambut mencatat 139.378 titik panas di lahan gambut sepanjang 1 hingga 14 September 2026, lebih dari separuhnya berada di kawasan berfungsi lindung. Di Sumatera Selatan, tujuh kabupaten yang membara pada 2015 kembali terbakar tahun ini.
Sehari sebelum pelantikan, KPK menetapkan lima tersangka dugaan korupsi pengadaan yang memakai dana siap pakai kebencanaan di BNPB, fakta yang membuat pembenahan lembaga itu kian penting. Mandat Presiden kepada Kristomei terang: percepat respons, rapatkan koordinasi antarlembaga.
Sejarah rupanya gemar berulang dengan presisi yang ganjil. Pada September 2015, di tengah darurat asap, Willem Rampangilei dilantik menggantikan Syamsul Maarif sebagai Kepala BNPB dan menjanjikan penanganan asap sebagai prioritas nasional. Empat bulan berselang, Badan Restorasi Gambut (BRG) lahir.