Saat ini, Hutama Karya juga menjadi kontraktor di 27 Proyek Strategis Nasional (PSN) di berbagai sektor.

Hingga September 2026, total aset dan ekuitas perusahaan sama-sama tumbuh dibanding tahun lalu, seiring bertambahnya ruas JTTS yang terbangun. Rasio utang berbunga terhadap modal terjaga di kisaran 0,25 kali.

Kondisi ini memberi ruang bagi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan ke depan. Pefindo, Fitch Ratings, dan Moody's menempatkan Hutama Karya pada kategori layak investasi (investment grade).

Bagi BUMN penugasan, keuangan yang sehat berdampak langsung bagi masyarakat. Pembayaran kepada mitra, subkontraktor, dan pemasok tetap lancar, sehingga rantai pasok konstruksi dan tenaga kerja di daerah ikut bergerak.

Arus kas dari ruas tol yang sudah beroperasi juga dapat dipakai untuk membangun ruas berikutnya. Hal ini sejalan dengan penekanan agenda 2 Tahun Gerak Nyata pada hasil yang dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya berupa jalan tol yang melayani jutaan perjalanan dan perputaran ekonomi bagi mitra usaha di daerah.

Hingga akhir 2026, perusahaan memprioritaskan pengendalian beban usaha, kualitas aset, arus kas, dan efisiensi energi di lapangan. Pembangunan tiga koridor JTTS juga terus berjalan, yakni Palembang-Betung, Betung-Jambi, dan Rengat-Pekanbaru (Seksi Junction Pekanbaru-Bypass Pekanbaru).

Secara internal, perusahaan meningkatkan kompetensi SDM operasi dan pemeliharaan, mengembangkan digitalisasi layanan jalan tol, dan memperkuat pengendalian risiko di setiap tahap pelaksanaan proyek. Koentjoro menegaskan seluruh langkah tersebut ditempuh agar perusahaan tetap tumbuh sambil menjalankan tugas negara.

"Penugasan negara bisa dijalankan dengan tetap menjaga kesehatan keuangan perusahaan," pungkasnya.