Guncangan kuat berintensitas skala IV MMI tercatat dirasakan di wilayah Macang Pacar, Reok Barat, dan Reok, namun dipastikan tidak berpotensi tsunami sebagaimana dilaporkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya.
Daryono memaparkan sejumlah penjelasan ilmiah terkait dinamika pascagempa besar di wilayah tersebut. Pertama, gempa utama magnitudo 7,7 melepaskan energi elastik yang terakumulasi dalam waktu lama, namun menyisakan redistribusi tegangan yang memicu aktivitas susulan baik pada bidang sesar utama maupun struktur sesar di sekitarnya.
Kedua, proses penyesuaian mekanis pada batuan di sekitar zona patahan membutuhkan waktu, sehingga gempa susulan dapat berlangsung hingga berminggu-minggu atau lebih. Secara statistik, frekuensinya umumnya meluruh mengikuti Hukum Omori-Utsu, meski penurunannya tidak selalu teratur.
Ketiga, keberadaan bagian zona sesar yang masih mengalami konsentrasi tegangan memungkinkan terjadinya gempa susulan dengan magnitudo yang signifikan. Keempat, perubahan tegangan akibat gempa besar juga berpotensi mempengaruhi struktur sesar di luar bidang patahan utama (off-fault seismicity), yang perlu dibuktikan melalui analisis hiposenter, mekanisme sumber, dan perubahan tegangan Coulomb.