NADIKABAR.COM — Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta berkolaborasi dengan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) dalam program bedah 50 rumah warga berpenghasilan rendah di Menteng Tenggulun, Jakarta Pusat.
"Desain-desain 50 bedah rumah tersebut karya nyata dari teman-teman Arsitek Jakarta untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)," kata Ketua IAI Jakarta Teguh Ariyanto dalam kegiatan Jakarta Architecture Festival dan M Bloc Design Week 2026 di Jakarta, Jumat.
Dia mengatakan puluhan rumah tersebut telah selesai direnovasi dan kembali ditempati oleh pemiliknya. Saat ini, program tersebut tinggal menunggu proses peresmian secara seremonial.
Dalam program tersebut, IAI Jakarta berkontribusi melalui perancangan desain rumah yang disesuaikan dengan kebutuhan penghuni dan batas anggaran yang telah ditentukan.
"Sudah diwujudkan, sudah jadi, sudah ditempati lagi. Mungkin sedang menunggu proses peresmian seremoni, tapi sekarang sudah selesai dan sudah dihuni oleh mereka," ujar Teguh.
Dia menyebutkan Kementerian PKP bertanggung jawab melakukan pendataan sekaligus menentukan warga penerima bantuan.
Salah satu kriteria yang ditetapkan, yaitu kepastian kepemilikan rumah dan tanah, sehingga rumah yang direnovasi bukan merupakan tempat sewa atau berdiri di atas tanah yang bermasalah.
Setelah proses pendataan, arsitek dari IAI Jakarta melakukan survei dan wawancara dengan penghuni untuk memahami kebutuhan mereka. Hasilnya kemudian digunakan sebagai dasar penyusunan gambar kerja sebelum pembangunan dilaksanakan oleh kontraktor yang ditetapkan Kementerian PKP.
IAI Jakarta turut melakukan pengawasan terhadap pembangunan untuk memastikan pelaksanaannya sesuai dengan desain yang telah direncanakan.
Terkait anggaran, Teguh mengungkapkan desain rumah disesuaikan dengan kisaran biaya pembangunan, yakni sekitar Rp20 juta hingga Rp50 juta per unit.
Namun, pihaknya tidak mengetahui secara rinci terkait pembagian sumber pendanaan dari pemerintah maupun tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
"Soal pendanaan, memang bukan ranah kami. Kami cuma diberikan batas budget "tolong desainnya, paling tidak range-nya 20 sampai 50 jutaanlah,". Mengenai pendanaan detailnya berapa persen dari dana pemerintah, berapa persen dari CSR, kami tidak tahu detail, tetapi batas budget yang terbangun kurang lebih di angka itu," ungkap Teguh.
Program tersebut, kata dia, menjadi salah satu bentuk kontribusi arsitek dalam membantu masyarakat berpenghasilan rendah memperoleh hunian yang lebih layak sekaligus memperluas peran profesi arsitek dalam pembangunan perkotaan.
Kampung Menteng Tenggulun merupakan kawasan permukiman padat dengan kualitas lingkungan yang belum tertata optimal serta keterbatasan akses ekonomi bagi warga. Sejumlah rumah di kawasan itu belum memenuhi standar kelayakan hunian, antara lain akibat minimnya sirkulasi udara dan pencahayaan alami, serta persoalan sanitasi.
Di sisi lain, kawasan tersebut memiliki potensi ekonomi berbasis rumah tangga, khususnya usaha kuliner, yang belum dikelola secara terarah.
Melalui program pengabdian profesi, IAI Jakarta berkolaborasi dengan Kementerian PKP serta melibatkan 50 anggotanya untuk memperbaiki 50 rumah tidak layak huni menjadi hunian yang lebih sehat dan manusiawi di Kampung Menteng Tenggulun, Manggarai, Jakarta Pusat.
Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada perbaikan rumah, tetapi juga mencakup penataan kawasan secara menyeluruh, termasuk koridor gang dan bantaran Kali Krukut serta Sungai Ciliwung.
Melalui program itu, Kampung Menteng Tenggulun diharapkan dapat bertransformasi menjadi kawasan yang lebih layak huni sekaligus mengembangkan potensi wisata dan menggerakkan perekonomian warga.