"Semua bisa dikemas menjadi konten kreatif yang menarik dan memiliki nilai ekonomi," sambungnya.

Ibas yang juga menaruh perhatian pada pengembangan industri kreatif, termasuk musik dan film, mengajak generasi muda yang memiliki minat di bidang perfilman, fotografi, dan industri digital untuk terus meningkatkan kemampuan.

Menurut Ibas, industri kreatif memiliki rantai ekonomi yang luas dan mampu membuka berbagai jenis pekerjaan. Dalam industri perfilman, misalnya, dibutuhkan penulis cerita, aktor, kameramen, editor, hingga berbagai tenaga pendukung produksi.

Sementara bidang fotografi dapat dikembangkan melalui jasa dokumentasi pernikahan, kegiatan masyarakat, maupun berbagai acara pemerintahan dan komunitas.

"Menjadi content creator (kreator konten) juga bisa menghasilkan pendapatan. Apalagi jika kita mampu menciptakan konten yang positif, menarik, dan memiliki nilai jual," ungkap Ibas.

"Kita harus mulai dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan kita, dari potensi yang ada di daerah sendiri," sambungnya.

Lebih lanjut, Ibas menekankan pengembangan ekraf membutuhkan dukungan bersama dari pemerintah pusat, pemerintah daerah (pemda), pemerintah desa, komunitas, dan masyarakat. Dukungan tersebut diperlukan melalui pelatihan, pendampingan, penguatan keterampilan, promosi, serta perluasan akses pemasaran.

Ibas menyampaikan pemerintah perlu terus didorong agar menghadirkan kebijakan dan membuka peluang industri baru yang sesuai dengan kebutuhan serta karakter generasi muda. Dengan demikian, sektor ekraf dapat menjadi salah satu alternatif dalam memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.