Dia menegaskan hutan tidak hanya berfungsi sebagai sumber bahan baku industri, tetapi juga memiliki manfaat ekologis dan sosial. Karena itu, pengembangan industri kehutanan harus memperhatikan kelestarian lingkungan.

Ancaman kerusakan hutan akibat perubahan iklim, cuaca ekstrem, maupun aktivitas manusia juga perlu diantisipasi. Ibas menilai peningkatan produktivitas industri tidak boleh mengorbankan fungsi lingkungan. Dia turut mendorong kajian terhadap potensi lahan yang dapat dikembangkan secara produktif melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.

Ibas juga menyoroti pentingnya efisiensi operasional, inovasi, dan pemanfaatan teknologi untuk memperkuat daya saing industri kehutanan. Menurutnya, proses produksi perlu terus diperbaiki untuk mencegah pemborosan dan kehilangan bahan baku. Selain itu, riset untuk mengembangkan produk turunan gondorukem dan terpentin perlu diperkuat agar industri memiliki nilai tambah lebih besar.

Pemanfaatan teknologi digital dalam administrasi dan pencatatan operasional juga dinilai penting untuk mendukung transparansi serta tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance. Dia berharap penguatan kualitas produk, efisiensi, dan tata kelola dapat membuat industri kehutanan nasional semakin mampu bersaing di pasar global.

Dalam kesempatan itu, Ibas turut menyoroti kesejahteraan pekerja, khususnya penyadap getah pinus yang menjadi bagian penting dalam rantai produksi. Menurutnya, keberhasilan industri tidak hanya diukur dari jumlah produksi, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang dirasakan para pekerja dan masyarakat di sekitarnya.

Dia mendorong peningkatan kesejahteraan, keselamatan, dan kesehatan pekerja, baik yang bertugas di kawasan hutan maupun di lingkungan pabrik. Regenerasi penyadap juga menjadi perhatian. Ibas menilai keterlibatan generasi muda perlu didorong agar kegiatan penyadapan getah pinus dapat terus berlangsung.