NADIKABAR.COM — Institute for Essential Services Reform (IESR) mendorong negara-negara Asia Tenggara memperkuat integrasi rantai pasok teknologi energi bersih melalui pengembangan spesialisasi industri dan kerja sama manufaktur regional.
Sectoral Decarbonization Research Manager IESR Farid Wijaya mengatakan keunggulan terhadap sumber daya dan kapasitas manufaktur setiap negara di Asia Tenggara perlu dihubungkan agar kawasan tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk teknologi bernilai tambah tinggi.
"Skenario kebijakan berbeda dengan yang sedang berjalan atau telah ditetapkan, perjanjian yang telah diluluskan, peta jalan ASEAN untuk rencana aksi energi terbarukan, terlihat jika tidak ada dukungan finansial dan infrastruktur, generasi energi terbarukan tidak akan mencapai tingkat potensial," kata Farid dalam pemaparannya pada webinar transisi energi terbarukan di kawasan ASEAN yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.
Farid mengatakan pertumbuhan ekonomi kawasan ASEAN menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia, dengan pertumbuhan ekonomi tahunan sekitar 5,5 persen, dengan permintaan listrik regional yang diperkirakan terus meningkat sekitar 4 persen per tahun hingga 2035.
Menurut Farid, Indonesia dan Filipina memiliki kontribusi penting terhadap rantai pasok mineral global yang dibutuhkan dalam pengembangan teknologi energi bersih. Namun, kapasitas pengolahan mineral menjadi produk lanjutan, seperti sel baterai dan komponen teknologi, masih terbatas.
Tanpa kebijakan industri regional yang kuat dan investasi yang terkoordinasi, negara-negara Asia Tenggara berisiko mengekspor bahan mentah, sementara produk bernilai tambah tinggi diproduksi di luar kawasan.