Farid menjelaskan rantai pasok teknologi energi bersih di Asia Tenggara masih terkonsentrasi pada negara tertentu. Dalam industri panel surya, China masih mendominasi produksi global, sementara Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Indonesia mulai mengembangkan kapasitas manufaktur serta perakitan.
Namun, kapasitas produksi regional masih relatif kecil dibandingkan pasar global. Kondisi tersebut membuat sejumlah proyek energi bersih di Asia Tenggara tetap bergantung pada komponen impor.
Ketergantungan tersebut dapat meningkatkan risiko kenaikan biaya, gangguan logistik, dan keterlambatan proyek akibat perubahan rantai pasok global.
Situasi serupa terjadi pada industri turbin angin. Sejumlah negara ASEAN telah menetapkan target pengembangan kapasitas energi angin, tetapi masih bergantung pada komponen yang diproduksi di luar kawasan.
Padahal menurut Farid, Asia Tenggara seperti Indonesia dan Filipina memiliki potensi pada rantai pasok pada bahan baku baterai yang dibutuhkan jaringan global seperti nikel, manganese dan sumber bahan baku yang berkaitan dengan industri komponen baterai.