NADIKABAR.COM — Institute for Essential Services Reform (IESR) dalam studinya mengungkapkan elektrifikasi di berbagai sektor ekonomi berpeluang menekan kebutuhan energi primer Asia Tenggara pada 2050, seiring meningkatnya efisiensi sistem energi dan peralihan dari bahan bakar fosil menuju sumber energi terbarukan.

Project Manager MENTARI Grids dari IESR Alvin P Sisdwinugraha mengatakan studi pemodelan sistem energi terbarukan 100 persen di Asia Tenggara pada 2050 menunjukkan skenario kebijakan paling terbaik (Best Policy Scenario/BPS) membutuhkan energi primer sekitar 16.000 terawatt per jam.

Sementara itu, skenario kebijakan lainnya membutuhkan energi lebih besar hingga 20.000 terawatt per jam, yang menunjukkan potensi efisiensi dari peningkatan elektrifikasi.

"Lebih banyak elektrifikasi artinya lebih efisiensi dan lebih sedikit proses termal,” ujar Alvin dalam pemaparannya pada webinar yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.

Studi ini dilakukan melalui kolaborasi dengan universitas teknologi di Finlandia. Latar belakang studi adalah saat ini, sekitar 70–80 persen pembangkitan listrik di Asia Tenggara masih berasal dari energi fosil. Sektor transportasi juga sangat bergantung pada bahan bakar fosil, dengan porsinya mencapai sekitar 95 persen.

Alvin mengatakan peningkatan elektrifikasi menjadi salah satu pendorong utama perubahan sistem energi yang diproyeksikan berlangsung cepat pada periode 2030–2040 dan diperkirakan mencapai 92 persen pada 2050 seiring meningkatnya pemanfaatan energi terbarukan.