Ia mengatakan strategi transisi energi dengan elektrifikasi di Asia Tenggara dapat mengurangi emisi sektor transportasi. Skenario kebijakan BPS memproyeksikan tingkat elektrifikasi sekitar 33 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar 6 persen dalam skenario kebijakan saat ini (CPS).

Peningkatan elektrifikasi tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan energi.

Sementara itu, kawasan Asia Tenggara memiliki potensi energi terbarukan yang besar, terutama karena berada di wilayah Sunbelt yang memiliki potensi energi surya.

Oleh karena itu, studi tersebut juga menempatkan energi surya (solar PV) sebagai salah satu sumber utama pembangkitan listrik pada masa depan, dengan baterai diproyeksikan menjadi teknologi penyimpanan energi yang penting. Pengembangan kedua teknologi itu dinilai perlu didukung untuk mempercepat transisi energi di kawasan Asia Tenggara.

Alvin mengatakan pada 2050, biaya rata-rata yang dihasilkan pembangkit untuk setiap unit listrik (Levelized Cost of Energy/LCOE) pada skenario BPS mencapai hampir 0,05 dolar AS per kilowatt per jam dibandingnya skenario kebijakan saat ini yang hampir mencapai 0,11 dolar AS per kilowatt per jam.