"Melihat implikasi dan ekonomi dari sistem energi ini, kita dapat melihat BPS memberikan elektrifikasi dan energi yang paling murah pada tahun 2050 dengan LCOE hampir 70 persen persen di bawah skenario BPS," kata Alvin.

Alvin mengatakan studi ini juga melihat pentingnya penguatan konektivitas listrik antarnegara melalui jaringan ASEAN Power Grid yang dinilai dapat membantu dekarbonisasi sistem energi. Integrasi jaringan memungkinkan negara-negara di kawasan berbagi pasokan listrik dan memanfaatkan sumber energi terbarukan secara lebih optimal.

Dengan menerapkan kebijakan ini, emisi bahan bakar akan dapat dikurangi dari 2.000 juta ton pada 2020 hingga 0 pada 2050. Studi ini menyimpulkan bahwa Asia Tenggara memiliki peluang untuk mencapai sistem energi terbarukan 100 persen dan netralitas karbon pada 2050.

Skenario transisi energi yang lebih ambisius dinilai dapat menghasilkan emisi yang lebih rendah sekaligus biaya energi jangka panjang yang lebih murah.

Namun, pencapaian target tersebut membutuhkan keputusan kebijakan yang lebih kuat, peningkatan investasi energi terbarukan, elektrifikasi sektor ekonomi, serta pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.