Agenda lainnya adalah memperluas penggunaan peralatan rumah tangga pintar dan kompor listrik untuk mendorong elektrifikasi sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap LPG.
Indonesia berambisi mengembangkan PLTS berkapasitas 100 GW sebagai salah satu fokus utama agenda pembangunan ekonomi dan industri nasional.
Pada 2025, kapasitas terpasang energi terbarukan di Indonesia mencapai 15,6 GW dari total kapasitas pembangkit listrik Indonesia sebesar 107,5 GW. Sementara itu, kapasitas PLTS baru mencapai 1,49 GW, jauh di bawah potensi yang diperkirakan sebesar 3.294 GW.
Deon menilai pengembangan PLTS 100 GW membutuhkan dukungan lebih dari sekadar penambahan kapasitas pembangkit.
Dia menyampaikan pencapaian target tersebut juga memerlukan investasi, teknologi penyimpanan energi, infrastruktur transmisi, dan sistem kelistrikan yang lebih fleksibel.
Dalam kesempatan yang sama, Head of Energy Market and Policy, Solutions for Our Climate, Gahee Han mengatakan Korea Selatan juga tengah mempercepat transisi energi melalui strategi Korea Green Transformation (K-GX).
Pemerintah Korea Selatan melalui strategi K-GX berencana memobilisasi investasi sebesar 1.000 triliun won hingga 2035. Strategi tersebut mencakup belanja fiskal sebesar 200 triliun won, pembiayaan iklim lebih dari 790 triliun won, serta investasi sektor swasta sebesar 220 triliun won.