Sejumlah industri yang menjadi prioritas nasional dalam strategi tersebut meliputi baterai, energi surya, reaktor modular kecil (small modular reactor/SMR), hidrogen, serta teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS).

Korea Selatan juga menargetkan kapasitas energi terbarukan sebesar 100 GW pada 2030, yang membutuhkan penambahan sekitar 14 GW per tahun.

Han mengatakan angka tersebut lebih dari tiga kali lipat rata-rata penambahan kapasitas tahunan sebelumnya yang berkisar 3-4 GW.

Namun, menurut Han, kesiapan jaringan listrik di Korea Selatan menjadi salah satu tantangan untuk mencapai target tersebut.

"Target kami sangat ambisius, tetapi dalam praktiknya jaringan listrik belum siap mengakomodasi integrasi energi terbarukan," ujarnya.

Adapun kerja sama Indonesia dan Korea Selatan telah memiliki kerangka melalui nota kesepahaman energi bersih yang ditandatangani pada April 2026.

Kesepakatan tersebut mencakup energi surya, angin, panas bumi, hidrogen, nuklir, penyimpanan energi, jaringan pintar, dan baterai.