Menurut dia, saat pembalap dan kru sulit terdeteksi jika berlibur ke Gili karena tidak menggunakan seragam tim. Namun ia meyakini banyak dari mereka datang setelah balapan usai.

"After event itu yang banyak ada pembalap juga, terus ada pembalap yang motortrip juga main ke Gili. Kita nggak bisa deteksi kecuali kalau di-upload di sosial media," ungkapnya.

Bahkan di WSBK dan MotoGP pertama, banyak penonton yang memilih menginap di Gili terlebih dahulu karena penerbangan penuh.

Fenomena serupa terjadi pada MotoGP 9-11 Oktober. Banyak wisatawan domestik yang terlihat berkeliling Gili dengan sepeda pada hari Jumat. Bahkan ada rekan-rekannya yang merupakan wisatawan Indonesia yang memilih menginap 2 malam ekstra di Gili dan terbang kembali dari Bali karena penerbangan di Lombok penuh pada hari Minggu.

"Rata-rata dua malam mereka ekstra menginap, after event. Paling tidak kalau kita berbicara impact pasti ada," tegas Kusnawan.

Menurutnya, jumlah kamar di seluruh gili sebanyak 9.000 kamar, sehingga berdampak pada perputaran ekonomi yang fantastis. Ia menghitung saat kasus air bersih terjadi beberapa waktu lalu dengan asumsi 2.000 orang wisatawan datang di low season, perputaran uang mencapai Rp1,7 miliar per hari.