Adapun, return tersebut merupakan terbaik ketiga yang pernah tercatat bagi sebuah pasar bullish.
Sementara itu, harga minyak yang stabil dan jeda tekanan jual pada pasar obligasi AS juga menjadi katalis positif. Harga minyak Brent cenderung stabil di level 100 dolar AS per barel pada Selqsa(6/10), setelah sebelumnya mengalami koreksi.
Harga emas spot ditutup menguat 0,7 persen di level 4,168 dolar AS per troy oz (6/10). Kenaikan harga emas didukung oleh jeda kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan pelemahan dolar, sementara para investor menantikan risalah rapat The Fed bulan September untuk mendapatkan petunjuk baru mengenai prospek kebijakan moneternya.
Dari dalam negeri, investor menantikan data cadangan devisa Indonesia bulan September 2026 pada Rabu (7/10) yang sebelumnya meningkat di level 146,5 miliar dolar AS pada Agustus 2026 dari 145,3 miliar dolar AS pada Juli 2026.
Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp240,28 triliun per akhir September 2026, atau setara dengan dengan 71,51 persen dari total target penerimaan Bea Cukai yang ditetapkan APBN 2026.
Penerimaan kepabeanan dan cukai tersebut tumbuh 8,57 persen year on year (yoy).
Sementara, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil di level 5,2 persen pada tahun 2026 dan 2027 mendatang. Bank Dunia memprediksi untuk partumbuhan ekonomi Asia Timur dan Pasifik mencapai 4,5 persen pada tahun 2026.