"Konflik di Timur Tengah telah mendorong harga energi naik tajam pada tahun ini, memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, yang cenderung menekan aset berisiko," ujar Nico.
Sementara itu, pelaku pasar bersikap wait and see terhadap pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28-29 Oktober 2026 pekan ini, yang mana The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Di sisi lain, pelaku pasar menantikan Sidang Pleno Kelima Partai Komunis China, yang berakhir pada tanggal 26-27 Oktober 2026, untuk mendapatkan panduan lebih lanjut mengenai prioritas ekonomi dan arah kebijakan.
Pelaku pasar menantikan sinyal-sinyal mengenai arah kebijakan dan kepemimpinan China di masa depan dari hasil pertemuan Presiden China Xi Jinping dan para pemimpin senior lainnya memulai pertemuan penting Partai Komunis di Beijing pada Senin.
Dari dalam negeri, Nico mengatakan kekhawatiran fiskal muncul kembali di tengah harga minyak yang lebih tinggi, mengingat status Indonesia sebagai importir minyak tentunya beban APBN akan meningkat seiring kenaikan harga minyak dunia seiring meningkatnya beban subsidi energi.