NADIKABAR.COM — Kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih fluktuatif membuat investor saham, terutama pemula, perlu lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Pergerakan pasar yang cepat dapat memicu kepanikan dan membuat investor mengambil keputusan berdasarkan emosi. Padahal, investasi saham membutuhkan strategi, pemahaman terhadap risiko, serta kedisiplinan dalam menjalankan rencana yang telah dibuat.

Lantas, bagaimana pemula bisa mulai berinvestasi saham di tengah kondisi pasar yang bergejolak tanpa mudah panik dan terbawa tren?

Siapkan Strategi Sebelum Beli Saham

Perencana Keuangan Advisors Alliance Group (AAG) Indonesia Dandy mengatakan orang yang mudah panik tetap memungkinkan untuk berinvestasi saham. Namun, investor perlu membekali diri dengan pengetahuan dan strategi agar tidak mengambil keputusan secara emosional.

Menurutnya, kepanikan kerap muncul karena meningkatnya ketakutan hingga minimnya pengetahuan investor terhadap risiko investasi.

"Memungkinkan banget buat orang yang gampang panikan, namun perlu handle dari segi pengetahuan dan psikologinya. Biasanya panik karena banyak ketakutan dan ketidaktahuan," ujar Dandy kepada NadiKabar.com, Jumat (23/10).

Untuk mengurangi kepanikan, investor pemula dapat menyesuaikan investasi dengan profil risikonya, masuk dengan porsi kecil, menggunakan jangka waktu panjang, serta menerapkan strategi dollar cost averaging (DCA).

Dandy juga menyarankan pemula menentukan tujuan investasi, jangka waktu, batas kerugian yang siap ditanggung, serta porsi dana yang akan dialokasikan sebelum membeli saham.

"Untuk awal siapkan tujuan investasi, berapa lama, berapa persen siap ruginya, porsi uang yang akan dialokasikan dan dalam kondisi seperti apa beli, jual, kurangi porsi, pertahankan atau harus jual semuanya," jelas Dandy.

Menurutnya, kondisi pasar yang sedang bergejolak justru dapat menjadi momentum untuk belajar memahami investasi, bukan hanya ketika IHSG sedang mengalami tren kenaikan.

Selain modal investasi, Dandy mengatakan investor perlu memastikan kondisi keuangan pribadi sudah sehat sebelum masuk ke pasar saham.

Hal yang perlu disiapkan antara lain arus kas yang sehat, dana darurat yang cukup, proteksi, strategi, serta pengetahuan mengenai investasi.

"Selain modal perlu siapkan cashflow yang memang sudah sehat, dana darurat yang cukup, proteksi, strategi dan pengetahuan. Pakai uang yang memang disiapkan untuk investasi, bukan uang untuk kebutuhan sehari-hari," kata Dandy.

Ia juga mengingatkan investor untuk tidak memasukkan seluruh dana sekaligus dan menyesuaikan porsi investasi dengan kemampuan serta profil risiko.

Pilih Saham dengan Fundamental Baik

Dalam menentukan saham yang layak dipilih, Dandy menyarankan investor melihat fundamental perusahaan, mulai dari kemampuan menghasilkan keuntungan hingga perkembangan bisnisnya.

"Pertimbangannya punya fundamental yang bagus, apakah perusahaan bisnisnya untung atau enggak, laporan keuangannya profit, secara bisnis juga bagus dan berkembang dengan baik, secara harga saham masih belum terlalu mahal," ujarnya.

Untuk menghindari saham gorengan, Dandy menyarankan pemula memilih saham yang telah masuk indeks yang memiliki proses penyaringan, seperti LQ45, IDX30, Kompas100, dan Value30. Sementara untuk analisis yang lebih teknis, investor dapat melihat valuasi serta kondisi bid dan offer saham.

Dandy menegaskan FOMO atau fear of missing out merupakan hal yang perlu dihindari dalam investasi saham.

Menurutnya, unggahan di media sosial yang memperlihatkan keuntungan besar dari suatu saham dapat membuat investor mengambil keputusan secara emosional.

"Jangan sampai membuat keputusan investasi based on emosi," kata Dandy.

Ia menilai investor perlu tetap berpegang pada strategi yang telah dibuat dan tidak mengikuti keputusan investasi orang lain hanya karena takut tertinggal.

Perencana Keuangan Andy Nugroho menilai sifat mudah panik dapat menjadi indikasi seseorang memiliki profil risiko konservatif atau moderat. Karakter tersebut dinilai kurang cocok dengan pasar saham yang agresif, terutama jika investasi dilakukan dengan cara trading.

Namun, menurut Andy, investor dengan karakter tersebut tetap dapat berinvestasi di pasar saham dengan pendekatan jangka panjang.

Ia menyarankan investasi dilakukan dalam jangka waktu tiga hingga lima tahun atau lebih, termasuk dengan mempertimbangkan potensi pembagian dividen.

"Bila mau orang tersebut masih tetap dapat berinvestasi di pasar saham, namun mendapatkan cuannya dengan cara investasi jangka panjang misal 3-5 tahun atau bahkan lebih, serta menunggu pembagian dividen setiap tahunnya," ujar Andy.

Andy juga mengingatkan investor pemula untuk memahami analisis fundamental dan teknikal, menggunakan uang dingin, serta disiplin menentukan batas keuntungan dan kerugian sebelum membeli saham.

Untuk investasi pertama, Andy menyarankan dana yang ditempatkan maksimal 30 persen dari modal yang dimiliki. Jika ingin menambah investasi, dilakukan secara bertahap.

Dalam memilih saham, Andy menekankan pentingnya fundamental perusahaan dan likuiditas saham. Artinya, saham tersebut memiliki volume transaksi yang cukup tinggi sehingga relatif mudah diperjualbelikan kembali.

"Buat pemula, lebih baik pilih saham-saham yang masuk kategori saham-saham unggulan semisal yang ada di list LQ45, IDX100, dan lain-lain," kata Andy.

Ia juga mengingatkan investor tidak tergoda grafik saham yang terlihat memberikan keuntungan besar dalam waktu singkat.

"Jangan tergoda chart yang menggiurkan dalam tempo singkat. Pelajari pergerakan teknikalnya dalam jangka panjang ke belakang, lakukan riset dan pelajari fundamental emiten tersebut," ujar Andy.

Menurutnya, saham gorengan biasanya memiliki volume transaksi rendah meskipun pergerakan harganya dapat melonjak hingga menyentuh auto rejection atas (ARA).

Andy menilai FOMO merupakan salah satu hal yang harus dihindari ketika berinvestasi saham karena dapat membuat investor terbawa arus pihak lain yang sedang mengerek suatu saham.

"Sifat FOMO merupakan salah satu sifat yang harus dihindari bila berinvestasi di pasar saham. Karena dengan mudah kita dapat terbawa arus orang-orang yang sedang 'menggoreng' saham tersebut. Untuk itu selalu lakukan riset sendiri sebelum memutuskan membeli ataupun menjual," ujar Andy.

Kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih fluktuatif membuat investor saham, terutama pemula, perlu lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Pergerakan pasar yang cepat dapat memicu kepanikan dan membuat investor mengambil keputusan berdasarkan emosi. Padahal, investasi saham membutuhkan strategi, pemahaman terhadap risiko, serta kedisiplinan dalam menjalankan rencana yang telah dibuat.

Lantas, bagaimana pemula bisa mulai berinvestasi saham di tengah kondisi pasar yang bergejolak tanpa mudah panik dan terbawa tren?

Siapkan Strategi Sebelum Beli Saham

Perencana Keuangan Advisors Alliance Group (AAG) Indonesia Dandy mengatakan orang yang mudah panik tetap memungkinkan untuk berinvestasi saham. Namun, investor perlu membekali diri dengan pengetahuan dan strategi agar tidak mengambil keputusan secara emosional.

Menurutnya, kepanikan kerap muncul karena meningkatnya ketakutan hingga minimnya pengetahuan investor terhadap risiko investasi.

"Memungkinkan banget buat orang yang gampang panikan, namun perlu handle dari segi pengetahuan dan psikologinya. Biasanya panik karena banyak ketakutan dan ketidaktahuan," ujar Dandy kepada NadiKabar.com, Jumat (23/10).

Untuk mengurangi kepanikan, investor pemula dapat menyesuaikan investasi dengan profil risikonya, masuk dengan porsi kecil, menggunakan jangka waktu panjang, serta menerapkan strategi dollar cost averaging (DCA).

Dandy juga menyarankan pemula menentukan tujuan investasi, jangka waktu, batas kerugian yang siap ditanggung, serta porsi dana yang akan dialokasikan sebelum membeli saham.

"Untuk awal siapkan tujuan investasi, berapa lama, berapa persen siap ruginya, porsi uang yang akan dialokasikan dan dalam kondisi seperti apa beli, jual, kurangi porsi, pertahankan atau harus jual semuanya," jelas Dandy.

Menurutnya, kondisi pasar yang sedang bergejolak justru dapat menjadi momentum untuk belajar memahami investasi, bukan hanya ketika IHSG sedang mengalami tren kenaikan.

Selain modal investasi, Dandy mengatakan investor perlu memastikan kondisi keuangan pribadi sudah sehat sebelum masuk ke pasar saham.

Hal yang perlu disiapkan antara lain arus kas yang sehat, dana darurat yang cukup, proteksi, strategi, serta pengetahuan mengenai investasi.

"Selain modal perlu siapkan cashflow yang memang sudah sehat, dana darurat yang cukup, proteksi, strategi dan pengetahuan. Pakai uang yang memang disiapkan untuk investasi, bukan uang untuk kebutuhan sehari-hari," kata Dandy.

Ia juga mengingatkan investor untuk tidak memasukkan seluruh dana sekaligus dan menyesuaikan porsi investasi dengan kemampuan serta profil risiko.

Pilih Saham dengan Fundamental Baik

Dalam menentukan saham yang layak dipilih, Dandy menyarankan investor melihat fundamental perusahaan, mulai dari kemampuan menghasilkan keuntungan hingga perkembangan bisnisnya.

"Pertimbangannya punya fundamental yang bagus, apakah perusahaan bisnisnya untung atau enggak, laporan keuangannya profit, secara bisnis juga bagus dan berkembang dengan baik, secara harga saham masih belum terlalu mahal," ujarnya.

Untuk menghindari saham gorengan, Dandy menyarankan pemula memilih saham yang telah masuk indeks yang memiliki proses penyaringan, seperti LQ45, IDX30, Kompas100, dan Value30. Sementara untuk analisis yang lebih teknis, investor dapat melihat valuasi serta kondisi bid dan offer saham.

Dandy menegaskan FOMO atau fear of missing out merupakan hal yang perlu dihindari dalam investasi saham.

Menurutnya, unggahan di media sosial yang memperlihatkan keuntungan besar dari suatu saham dapat membuat investor mengambil keputusan secara emosional.

"Jangan sampai membuat keputusan investasi based on emosi," kata Dandy.

Ia menilai investor perlu tetap berpegang pada strategi yang telah dibuat dan tidak mengikuti keputusan investasi orang lain hanya karena takut tertinggal.

Investor pemula perlu strategi dan pengetahuan untuk berinvestasi saham di pasar fluktuatif. Hindari keputusan emosional dan fokus pada fundamental perusahaan. (FOTO:NadiKabar.com/Adhi Wicaksono).

Perencana Keuangan Andy Nugroho menilai sifat mudah panik dapat menjadi indikasi seseorang memiliki profil risiko konservatif atau moderat. Karakter tersebut dinilai kurang cocok dengan pasar saham yang agresif, terutama jika investasi dilakukan dengan cara trading.

Namun, menurut Andy, investor dengan karakter tersebut tetap dapat berinvestasi di pasar saham dengan pendekatan jangka panjang.

Ia menyarankan investasi dilakukan dalam jangka waktu tiga hingga lima tahun atau lebih, termasuk dengan mempertimbangkan potensi pembagian dividen.

"Bila mau orang tersebut masih tetap dapat berinvestasi di pasar saham, namun mendapatkan cuannya dengan cara investasi jangka panjang misal 3-5 tahun atau bahkan lebih, serta menunggu pembagian dividen setiap tahunnya," ujar Andy.

Andy juga mengingatkan investor pemula untuk memahami analisis fundamental dan teknikal, menggunakan uang dingin, serta disiplin menentukan batas keuntungan dan kerugian sebelum membeli saham.

Untuk investasi pertama, Andy menyarankan dana yang ditempatkan maksimal 30 persen dari modal yang dimiliki. Jika ingin menambah investasi, dilakukan secara bertahap.

Dalam memilih saham, Andy menekankan pentingnya fundamental perusahaan dan likuiditas saham. Artinya, saham tersebut memiliki volume transaksi yang cukup tinggi sehingga relatif mudah diperjualbelikan kembali.

"Buat pemula, lebih baik pilih saham-saham yang masuk kategori saham-saham unggulan semisal yang ada di list LQ45, IDX100, dan lain-lain," kata Andy.

Ia juga mengingatkan investor tidak tergoda grafik saham yang terlihat memberikan keuntungan besar dalam waktu singkat.

"Jangan tergoda chart yang menggiurkan dalam tempo singkat. Pelajari pergerakan teknikalnya dalam jangka panjang ke belakang, lakukan riset dan pelajari fundamental emiten tersebut," ujar Andy.

Menurutnya, saham gorengan biasanya memiliki volume transaksi rendah meskipun pergerakan harganya dapat melonjak hingga menyentuh auto rejection atas (ARA).

Andy menilai FOMO merupakan salah satu hal yang harus dihindari ketika berinvestasi saham karena dapat membuat investor terbawa arus pihak lain yang sedang mengerek suatu saham.

"Sifat FOMO merupakan salah satu sifat yang harus dihindari bila berinvestasi di pasar saham. Karena dengan mudah kita dapat terbawa arus orang-orang yang sedang 'menggoreng' saham tersebut. Untuk itu selalu lakukan riset sendiri sebelum memutuskan membeli ataupun menjual," ujar Andy.