Sementara di China, pelaku pasar mencermati data CPI dan neraca perdagangan September yang disebut menjadi indikator permintaan komoditas. Data yang kuat berpotensi mendukung ekspor Indonesia, sedangkan pelemahan permintaan dapat menekan saham berbasis komoditas.

Internasional Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia pada 12-18 Oktober juga menjadi salah satu katalis pergerakan indeks siang ini. Investor disebut mencermati prospek ekonomi global, stabilitas keuangan, dan respons kebijakan terhadap kenaikan biaya energi dan risiko geopolitik.

Kemudian oada 14-16 Oktober, pejabat The Fed akan mengumumkan arah kebijakan suku bunga setelah rilis data inflasi. Dolar AS yang bertahan dekat level tertinggi 18 bulan masih menjadi risiko bagi rupiah dan aliran dana asing.