NADIKABAR.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Jumat (16/10). IHSG ditutup turun 11,57% ke level 5.185,10.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah saham masih mampu bergerak di zona hijau. BYAN naik 0,45%, BSWD melonjak 25,00%, dan DNET menguat 1,81%. Sebaliknya, BBCA turun 14,81%, BBRI melemah 14,84%, dan BMRI terkoreksi 14,82%.
Tekanan juga terlihat dari aktivitas investor asing. Di pasar reguler, investor asing mencatatkan net sell Rp3,40 triliun. Jika dihitung di seluruh pasar, net sell tercatat Rp3,35 triliun.
Seluruh sektor saham di BEI ikut melemah. Dari 11 sektor yang tercatat, Basic Industry mengalami penurunan paling dalam, yakni 13,37%.
Bursa Amerika Serikat juga ditutup di zona merah. Dow Jones turun 0,34% ke 52.002, S&P 500 melemah 1,09% ke 7.659, sementara Nasdaq turun 2,15% ke 26.140.
Pergerakan IHSG terjadi di tengah perhatian pasar terhadap ancaman perubahan status Indonesia oleh MSCI menjadi Standalone Market. Sebagai bagian dari respons terhadap kondisi pasar, BEI dan OJK mengubah batas Auto Rejection Bawah (ARB) menjadi 7%, dari sebelumnya 15%, yang berlaku hingga 31 Desember 2026.
Tekanan juga tercermin pada instrumen yang mengikuti pasar Indonesia. ETF EIDO turun 14,90%, sedangkan indeks MSCI Indonesia melemah 14,39%.
EMAS mempercepat pengembangan Pani Gold Mine dengan menyiapkan fasilitas pengolahan emas Carbon-in-Leach (CIL) fase 2.
Fasilitas tersebut akan dibangun dengan skala yang setara dengan CIL fase 1. Setelah kedua fasilitas melewati tahap commissioning, kapasitas produksi gabungan ditargetkan mencapai 500 ribu-700 ribu ons emas per tahun. Angka tersebut meningkat dari kapasitas produksi sebelumnya yang berada di kisaran 250 ribu-350 ribu ons emas per tahun.
Untuk CIL fase 1, fasilitas pengolahan saat ini dibangun dengan kapasitas 12 juta ton per tahun (Mtpa). Kapasitas tersebut masih dapat ditingkatkan hingga 14,4 Mtpa.
Pembangunan fasilitas fase 1 saat ini berlangsung di sejumlah area. Sementara itu, beberapa infrastruktur utama untuk fase 2 telah dimasukkan ke dalam desain fase 1. Langkah tersebut dilakukan untuk membuat proses pembangunan fasilitas menjadi lebih efisien.