Di sisi lain, Kementerian Keuangan optimistis defisit APBN 2026 tetap terkendali di level 2,85 persen terhadap PDB, meskipun Rupiah melemah hingga Rp18.156 per dolar AS dan harga minyak Brent mencapai 115,81 dolar AS per barel.
CORE Indonesia memperkirakan ruang fiskal menuju batas defisit 3 persen terhadap PDB hanya tersisa sekitar Rp39 triliun. Kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah berpotensi menambah kebutuhan subsidi serta kompensasi energi sebesar Rp30 triliun-Rp50 triliun di atas outlook pemerintah pada kuartal IV 2026.
Dengan mempertimbangkan pertumbuhan pendapatan negara dan potensi belanja yang tidak terserap sepenuhnya, defisit diproyeksikan mencapai 2,85-2,95 persen terhadap PDB hingga akhir tahun.
"Pemerintah juga perlu mewaspadai risiko penundaan pembayaran kompensasi kepada Pertamina dan PLN, karena langkah tersebut hanya menggeser beban fiskal ke tahun berikutnya," ujar Liza.
Bursa Eropa mayoritas menguat pada Selasa (27/10), diantaranya Euro Stoxx 50 menguat 0,79 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,75 persen, indeks DAX Jerman menguat 0,71 persen, dan indeks CAC 40 Prancis menguat 0,51 persen.
Bursa Wall Street AS kompak menguat pada Selasa (27/10), diantaranya indeks S&P 500 menguat 0,60 persen, indeks Nasdaq Composite menguat 1,18 persen, serta Dow Jones Industrial Average menguat 0,03 persen.
Bursa saham regional Asia pagi ini, indeks Nikkei menguat 1,20 persen ke 64.030,00, indeks Shanghai menguat 0,28 persen ke 3.658,96, indeks Hang Seng melemah 0,03 persen ke 23.035,95, indeks Kospi menguat 5,94 persen ke 5.972,17, dan indeks Straits Times melemah 0,07 persen ke 5.400,83.