Di sisi lain, Liza menyebut pelaku pasar masih mencermati ketidakpastian geopolitik antara AS dengan Iran. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menyatakan Tehran tetap terbuka terhadap diplomasi, namun menolak negosiasi di bawah tekanan.
Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan dengan utusan Iran berlangsung produktif, sementara Iran mengindikasikan kemungkinan membuka kembali Selat Hormuz apabila tekanan militer dan pembatasan terhadap pelabuhannya dikurangi.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati kunjungan Presiden China, Xi Jinping ke Washington, karena berpotensi menghasilkan pembahasan mengenai perdagangan dan hubungan bilateral AS dan China.
Seiring ketidakpastian konflik geopolitik, harga minyak mentah kembali naik yaitu jenis Brent kembali naik ke atas 100 dolar AS per barel setelah lima sesi berturut-turut melemah.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menilai level suku bunga acuan saat ini masih cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian global dan kondisi higher for longer di AS.
Selain kebijakan suku bunga, BI telah memperkuat stabilisasi melalui insentif biaya hedging untuk mendorong aliran modal asing masuk dan bertahan di pasar domestik. Insentif diberikan lebih besar untuk tenor hedging yang lebih panjang, termasuk melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) karena dapat meningkatkan supply dolar AS di pasar domestik.