NADIKABAR.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin bergerak sideways (mendatar) di tengah pelaku pasar bersikap wait and see terhadap kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed.
Dibuka menguat, IHSG pada pukul 09.46 WIB melemah 18,28 poin atau 0,34 persen ke posisi 5.420,98. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 2,61 poin atau 0,48 persen ke posisi 544,44.
"Jika IHSG mampu bertahan di atas level 5.424, potensi lanjut menuju resistance 5.520 dan 5.607- 5.631. Namun, jika terjadi profit taking dan IHSG tidak mampu bertahan di atas level 5.424, bisa kembali ke 5.328, IHSG bisa kembali ke support 5.278 atau 5.185,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Dari mancanegara, ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan konflik dengan Iran tidak akan berakhir sebelum kemampuan nuklir Teheran dipastikan dilumpuhkan, meskipun ia menyatakan tidak ada serangan AS pada Minggu (25/10).
Sementara itu, Kedutaan Besar AS memerintahkan staf non-esensial dan keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi menyusul serangan Houthi, yang dilaporkan melibatkan 10 rudal dan menyebabkan dua orang terluka serta kerusakan properti.
Sejumlah negara Teluk mengecam serangan tersebut, sedangkan Iran menilai negosiasi dengan Washington tidak bermakna sebelum tujuh persyaratannya dipenuhi.
Pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28-29 Oktober 2026 pekan ini, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya.
"Perhatian investor akan tertuju pada pernyataan resmi bank sentral untuk memperoleh petunjuk mengenai kemungkinan perubahan kebijakan pada pertemuan Desember 2026," ujar Liza.
Selain itu, pemilihan paruh waktu AS pada 3 November 2026, menjadi agenda politik penting karena akan menentukan komposisi dan kendali Kongres AS.