Liza mengatakan bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, tingginya harga minyak dunia, serta risiko pelemahan nilai tukar menjadi faktor utama yang perlu dicermati karena berpotensi meningkatkan inflasi impor (imported inflation) dan menambah tekanan terhadap stabilitas harga domestik.
βKondisi tersebut menempatkan BI pada tantangan untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional,β ujar Liza.
Sementara itu, BI mendorong penguatan kerja sama internasional melalui perluasan penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang negara ketiga dan meminimalkan dampak volatilitas nilai tukar global.
Hal tersebut disampaikan Gubernur BI Destry Damayanti dalam rangkaian pertemuan IMF-World Bank dan G20 Finance Ministers and Central Bank Governors pada 12β18 Oktober 2026 di Bangkok, Thailand.
Dari mancanegara, data ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan tekanan inflasi yang masih kuat, dengan data inflasi CPI dan PPI berada di atas perkiraan pasar.
"Kondisi itu membuat pelaku pasar memperkirakan probabilitas sekitar 85 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Oktober, sementara peluang kenaikan sebesar 25 basis poin pada Desember mencapai hampir 77 persen," ujar Liza.
Dalam pertemuan puncak IMF, Ketua The Fed, Kevin Warsh tidak memberikan sinyal pasti mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya, tetapi menyatakan bahwa inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan tidak mengubah penilaiannya