"Konsentrasi fosfat tercatat tinggi dimana di pintu Air Jagir mencapai 0,6 mg/L atau sekitar 3 kali lipat dari ambang 0,2 mg/L. Sementara itu di depan Stikosa-AWS konsentrasinya mencapai 1,2 mg/L atau sekitar 6 kali lipat dari baku mutu," kata Alaika.
Alaika menjelaskan tingginya fosfat dapat menjadi indikator adanya beban nutrien yang masuk ke badan air. Jika berlangsung dalam jumlah tinggi, nutrien berlebih dapat memicu pertumbuhan alga dan proses eutrofikasi yang pada kondisi tertentu dapat berkontribusi terhadap penurunan oksigen terlarut.
Alaika juga menyebut kondisi kemarau dapat memperparah konsentrasi pencemar. Saat debit sungai menurun drastis, limbah industri maupun domestik yang masuk ke badan air dapat menjadi lebih terkonsentrasi.
Kondisi tersebut dapat merusak kualitas air hingga menyebabkan ikan naik ke permukaan karena kekurangan oksigen dan akhirnya mati massal. Meski demikian, Ecoton belum menyimpulkan fosfat sebagai penyebab tunggal kematian ikan.
"Diperlukan pemeriksaan terhadap parameter lain yang lebih komprehensif untuk memastikan penyebab kematian ikan secara lebih pasti," pungkasnya.
Sebelumnya, gumpalan busa putih dilaporkan muncul di pintu air Rolak Karah, Surabaya, sejak Minggu (6/9/2026). Fenomena tersebut juga diikuti banyaknya ikan yang mengapung di Sungai Jagir hingga membuat ratusan warga berdatangan untuk menangkap ikan yang disebut 'mabuk'.