NADIKABAR.COM — Warga diminta waspada terhadap ikan yang ditemukan mati maupun dalam kondisi mabuk di Sungai Jagir, Wonokromo, Surabaya. Ikan tersebut diimbau tidak ditangkap, dijual, maupun dikonsumsi karena dikhawatirkan terpapar polutan atau bahan kimia.
Imbauan itu disampaikan Koordinator Ronda Sungai Ecoton Jofanny Ahmad Arianto setelah timnya melakukan pemantauan di sekitar lokasi pada Senin (7/9/2026).
Saat pemantauan, masih ditemukan sejumlah ikan mati. Selain itu, terdapat ikan yang menunjukkan kondisi tidak normal atau disebut mabuk. Ikan-ikan tersebut terlihat bergerak tidak normal dan berada di permukaan air.
"Beberapa jenis ikan yang ditemukan mati tim redaksi lain bader bang, bader putih, hampala, dan keting" ujar Jofanny, Selasa (8/9/2026).
Ia pun mengimbau masyarakat tidak menangkap, menjual, maupun mengonsumsi ikan yang ditemukan mati atau dalam kondisi mabuk dari Sungai Jagir.
"Kami khawatir jika polutan atau racun kimia lain masuk ke tubuh ikan, jika dikonsumsi manusia maka racun tersebut berpotensi berpindah dan masuk ke tubuh manusia, hingga akhirnya kita sendiri yang rugi" ungkap Jofan.
Oleh karena itu, masyarakat diminta tidak menjadikan ikan yang ditemukan mati ataupun mabuk sebagai bahan pangan hingga terdapat hasil pemeriksaan resmi mengenai penyebab kejadian dan keamanan ikan.
Pihaknya juga mendorong pengawasan lebih ketat terhadap seluruh titik pembuangan atau outlet limbah industri di sepanjang aliran sungai. Menurutnya, pengawasan tidak cukup dilakukan secara berkala, tetapi perlu didukung sistem yang dapat mendeteksi perubahan kualitas air secara cepat.
"Memang perlu ada pengawasan terhadap outlet-outlet limbah industri. Jadi memastikan bahwasanya di setiap outlet itu harus ada CCTV-nya, kemudian ada juga alat memantau kualitas air yang bisa dipantau secara real-time dan ada sensornya. Jadi ketika ada parameter yang melebihi baku mutu, sensornya akan berbunyi," tuturnya.
Selain pengawasan sumber pencemar, Jofan mendorong pemulihan ekosistem Sungai Jagir secara bertahap. Normalisasi sungai dinilai dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi sedimentasi dan endapan cemaran yang terakumulasi di dasar sungai.
Namun, normalisasi perlu dilakukan secara hati-hati dan berbasis kajian ekologis agar tidak mengganggu habitat organisme perairan. Setelah kualitas air dan kondisi habitat dinilai mendukung, pemulihan populasi ikan dapat dilakukan melalui program breeding dan restocking.
Selain memantau kondisi ikan, tim Ecoton melakukan pengukuran kualitas air di dua titik, yakni Pintu Air Jagir dan depan Stikosa AWS.
Hasil pengukuran awal menunjukkan terdapat parameter yang tidak memenuhi baku mutu air Kelas II berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021 Lampiran VI.
Koordinator tim investigasi ikan mati Ecoton, Alaika Rahmatullah mengatakan, parameter fosfat dan DO belum memenuhi baku mutu tersebut.
"Konsentrasi fosfat tercatat tinggi dimana di pintu Air Jagir mencapai 0,6 mg/L atau sekitar 3 kali lipat dari ambang 0,2 mg/L. Sementara itu di depan Stikosa-AWS konsentrasinya mencapai 1,2 mg/L atau sekitar 6 kali lipat dari baku mutu," kata Alaika.
Alaika menjelaskan tingginya fosfat dapat menjadi indikator adanya beban nutrien yang masuk ke badan air. Jika berlangsung dalam jumlah tinggi, nutrien berlebih dapat memicu pertumbuhan alga dan proses eutrofikasi yang pada kondisi tertentu dapat berkontribusi terhadap penurunan oksigen terlarut.
Alaika juga menyebut kondisi kemarau dapat memperparah konsentrasi pencemar. Saat debit sungai menurun drastis, limbah industri maupun domestik yang masuk ke badan air dapat menjadi lebih terkonsentrasi.
Kondisi tersebut dapat merusak kualitas air hingga menyebabkan ikan naik ke permukaan karena kekurangan oksigen dan akhirnya mati massal. Meski demikian, Ecoton belum menyimpulkan fosfat sebagai penyebab tunggal kematian ikan.
"Diperlukan pemeriksaan terhadap parameter lain yang lebih komprehensif untuk memastikan penyebab kematian ikan secara lebih pasti," pungkasnya.
Sebelumnya, gumpalan busa putih dilaporkan muncul di pintu air Rolak Karah, Surabaya, sejak Minggu (6/9/2026). Fenomena tersebut juga diikuti banyaknya ikan yang mengapung di Sungai Jagir hingga membuat ratusan warga berdatangan untuk menangkap ikan yang disebut 'mabuk'.