Peneliti mengumpulkan DNA di sekitar lingkungan dasar laut untuk mendeteksi spesies apa saja yang hidup di wilayah perairan tersebut tanpa harus menangkap hidup-hidup seluruh hewan yang ada. Di saat yang sama, peneliti juga mengambil rekaman video menggunakan kamera bawah laut untuk mengukur suhu, kadar garam, dan oksigen di air.

Menurut penulis utama studi, Tim O'Hara, temuan yang paling berkesan adalah sekitar 1.000 fosil gigi hiu yang terangkat dalam satu kali penarikan jaring di wilayah Cocos Abyssal Plain atau dataran dasar laut dekat Kepulauan Cocos. Gigi hiu ini diperkirakan memiliki rentang waktu evolusinya lebih dari 22 juta tahun.

Artinya, gigi hiu ini berasal dari generasi atau era yang berbeda-beda, namun berada di lokasi yang sama. Gigi hiu yang ditemukan di antaranya berasal dari jenis hiu putih raksasa, hiu mako, hiu harimau, bahkan terdapat fosil gigi Megalodon, hiu purba raksasa yang sudah punah. Peneliti menyebut lokasi penemuan ini sebagai "The Shark Graveyard".

Saat diteliti lebih jauh, terdapat batuan alami kaya mineral yang terbentuk di dasar laut yang terkandung pada gigi hiu yang ditemukan. Batuan mineral ini merupakan salah satu jenis yang paling dicari untuk bahan membuat baterai kendaraan listrik hingga turbin angin.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di NadiKabar.com.