NADIKABAR.COM — Samudera Hindia yang mencakup seperlima dari luas lautan di dunia masih menyimpan berbagai misteri. Terbaru, sebuah penelitian mengungkap temuan ratusan spesies baru dan ribuan fosil.
Dalam studi berjudul "Faunal community ecology of central-eastern Indian Ocean Seamounts", peneliti melakukan ekspedisi di sekitar Pulau Christmas dan Cocos, yang terletak di barat daya Pulau Jakarta, Indonesia, di tim redaksi Australia dan Sri Lanka. Mereka meneliti puluhan gunung berapi bawah laut.
Pada 2020, tim internasional yang terdiri dari 33 peneliti telah memetakan dasar laut dan 22 gunung bawah laut. Gunung-gunung bawah laut raksasa ini menjulang setidaknya 1.000 meter di atas dasar laut dan mengganggu arus laut dalam. Kondisi ini menciptakan oasis nutrisi bagi hewan penyaring dan hewan lainnya.
Para peneliti melakukan survei pada kedalaman mulai dari 94 hingga 5.431 meter dan memetakan dasar laut abisal yang gelap. Ditemukan pula gunung bawah laut vulkanik yang berusia 40 hingga 120 juta tahun dengan diameter mencapai 70 kilometer.
Untuk menjangkau kedalaman ekstrem ini, Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) memakai kapal riset khusus bernama RV Investigator, yang mampu menjangkau kedalaman hingga 5.000 meter. Kapasitas menyelam ini jauh lebih dalam dibandingkan dengan riset Australia sebelumnya yang hanya mencapai kedalaman 3.000 meter.
"Orang-orang pernah menjelajahi pulau-pulau di perairan dangkal sebelumnya, tetapi belum ada yang meneliti kehidupan di perairan yang lebih dalam. Itu adalah celah besar dalam data," kata Tim O'Hara, seorang ilmuwan kelautan di Museums Victoria, Australia, sekaligus penulis utama studi, seperti dikutip dari ZME Science.
Peneliti berhasil menemukan 149 spesies laut yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya. Bahkan 1.000 fosil gigi hiu ditemukan di lokasi yang sama.
Untuk menjaring hewan-hewan di laut ini, para peneliti menggunakan pukat jaring dengan lebar empat meter yang ditarik sangat pelan menggunakan kabel sepanjang delapan kilometer di dasar laut.
Hewan laut yang paling banyak terjaring adalah ubur-ubur dan cacing laut. Pada jaring yang lebih kecil dan berbentuk kerucut, terdapat pula kepiting kecil, lobster, dan hewan bercangkang lainnya yang lolos dari jaring pertama.
Total, penelitian menjaring 1.059 spesies dan 149 di antaranya merupakan spesies yang baru ditemukan. Dari 149 spesies yang baru ditemukan, terdapat 23 spesies yang merupakan jenis ikan yang belum pernah tercatat di perairan Australia sama sekali.
Peneliti mengumpulkan DNA di sekitar lingkungan dasar laut untuk mendeteksi spesies apa saja yang hidup di wilayah perairan tersebut tanpa harus menangkap hidup-hidup seluruh hewan yang ada. Di saat yang sama, peneliti juga mengambil rekaman video menggunakan kamera bawah laut untuk mengukur suhu, kadar garam, dan oksigen di air.
Menurut penulis utama studi, Tim O'Hara, temuan yang paling berkesan adalah sekitar 1.000 fosil gigi hiu yang terangkat dalam satu kali penarikan jaring di wilayah Cocos Abyssal Plain atau dataran dasar laut dekat Kepulauan Cocos. Gigi hiu ini diperkirakan memiliki rentang waktu evolusinya lebih dari 22 juta tahun.
Artinya, gigi hiu ini berasal dari generasi atau era yang berbeda-beda, namun berada di lokasi yang sama. Gigi hiu yang ditemukan di antaranya berasal dari jenis hiu putih raksasa, hiu mako, hiu harimau, bahkan terdapat fosil gigi Megalodon, hiu purba raksasa yang sudah punah. Peneliti menyebut lokasi penemuan ini sebagai "The Shark Graveyard".
Saat diteliti lebih jauh, terdapat batuan alami kaya mineral yang terbentuk di dasar laut yang terkandung pada gigi hiu yang ditemukan. Batuan mineral ini merupakan salah satu jenis yang paling dicari untuk bahan membuat baterai kendaraan listrik hingga turbin angin.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di NadiKabar.com.