Dia menyarankan negara-negara untuk membangun kembali penyangga guna memastikan bahwa mereka siap merespons secara efektif terhadap guncangan pasokan energi lainnya. Helbling juga menyoroti risiko-risiko terkait AI. "Di tengah investasi AI yang sangat besar, ketika penggunaan utang dan kerentanan keuangan terkait AI meningkat, ada kekhawatiran bahwa dalam jangka pendek, AI mungkin tidak memenuhi ekspektasi dalam menghasilkan laba dan pendapatan. Dan hal ini dapat memicu koreksi pasar, yang pada akhirnya akan berujung pada sejumlah koreksi dalam investasi dan permintaan," paparnya. Penting untuk menetapkan kerangka regulasi dan pengawasan agar sistem keuangan mampu menyerap potensi guncangan dalam ekosistem AI, misalnya, melalui pembatasan penggunaan utang dan eksposur berlebih terhadap sektor-sektor AI, ujar Helbling. Helbling mengatakan IMF tetap mengkhawatirkan risiko-risiko akibat meningkatnya fragmentasi geoekonomi dan ketegangan geopolitik, yang dapat menghambat perdagangan dan berujung pada friksi perdagangan yang lebih besar dan lebih banyak inefisiensi dalam perekonomian global dan regional, serta pertumbuhan yang lebih rendah.
Dia menyatakan bahwa IMF telah lama mendorong negara-negara untuk mengupayakan penyelesaian persoalan mendasar yang memicu ketegangan perdagangan serta mewujudkan sistem perdagangan yang terbuka, idealnya bersifat multilateral. IMF menyambut baik upaya proaktif Tiongkok untuk mempertahankan sistem perdagangan multilateral dan berbasis aturan, ujar Helbling kepada Xinhua. "Pada akhirnya, penting bagi negara-negara untuk menyelesaikan ketegangan dan perbedaan mendasar di balik sengketa perdagangan. Bagi perekonomian besar seperti Tiongkok, penting untuk mengambil peran kepemimpinan dalam menyelesaikan sejumlah perbedaan tersebut," imbuhnya.