Ia mengatakan selama pelaksanaan program, sampah anorganik yang terkumpul meliputi 133,69 kilogram botol plastik, 312,38 kilogram kardus, 2,86 kilogram kaleng aluminium, 4,47 kilogram kaleng biasa, serta 1.615 botol kaca.

Berdasarkan perhitungan harga pembelian material oleh pihak pembeli (offtaker), nilai ekonomis sampah yang terkumpul diperkirakan mencapai Rp1.443.500.

Ferdi mengatakan CSR IMIP melibatkan sejumlah mitra komunitas untuk mengelola sampah yang terkumpul lebih lanjut, yakni Bank Sampah Lestari Mandiri di Desa Bahomakmur, Bank Sampah Sidaya dan KSM Ara Sinergi Berdaya di Desa Labota, serta pengurus Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Desa Le-Le.

“Sampah daur ulang yang terkumpul lalu disalurkan ke kelompok pengelola di masing-masing desa. Sampah itu dapat dijual kepada offtaker untuk diolah lebih lanjut. Bisa sebagai bahan baku produksi, atau dijual kembali ke pihak lain di area Morowali, hingga Makassar dan Surabaya,” ujarnya.

Ia menjelaskan sampah dihitung berdasarkan jumlah satuan dan dikalikan dengan harga jualnya. Sebagai contoh, satu botol kaca dihargai Rp500.

Setiap warga dapat menukarkan sampah dengan paling banyak tiga macam komoditas, seperti satu kilogram beras, satu liter minyak goreng, dan kopi bubuk.